Setelah penat seharian bekerja di tengah kota Jakarta, aku sering numpang pulang kereta listrik dari Stasiun Tanah Abang. Berdesakan dengan banyak penumpang lain, yang kadang-kadang terlihat seperti kenal, karena sering menumpang KRL yang sama.
Mari Menggambar adalah sebuah program seseruan, lucu-lucuan, yang dirancang untuk mewarnai hidup yang seringkali kelam..

*/ maskot disumbang oleh moreza
Program ini dimulai dengan dibuatnya sebuah blog. Blog itu akan menjadi media yang menerima dan mempublikasikan gambar dari siapapun yang ‘dekat’ dengan perangkat komputer.
Lalu, di pertengahan Januari 2009 mendatang, para penumpang di gerbong KRL ekonomi Tanah Abang - Serpong, akan diajak untuk menggambari kertas yang disediakan. Gambar-gambar yang terkumpul, akan dipublikasikan melalui blog tadi, dan syukur-syukur, kepala stasiun Tanah Abang memperbolehkan adanya pameran kecil di ‘lobby’ stasiun.
Kemarin ini, aku mengunjungi sebuah pojok dekat Pasar Baru, Jakarta.







Di Hari Kamis sore yang mendung itu, aku bersama pak Dharmawan dan pak Dipo, mengunjungi sebuah bangunan tua yang berada di salah satu pojok Kota Tangerang.
Beberapa pekerja sedang berberes, merapikan, dan menyusun batu-batu terakota hasil pencopotan dari lokasi yang bertepi dengan Kali Cisadane itu.
Sebuah rumah bergaya kolonial yang sudah kusam dan ditopang seadanya, menyambut sewaktu aku memasuki lokasi tanpa pagar itu.
Berjalan ke belakang, rumah besar bergaya Tionghoa terlihat sudah ‘dipreteli’ (hampir) habis. Beberapa kayu dan besi penopang sudah tertumpuk di halaman.
Hik.. sebuah bangunan tua kembali mengalami penjarahan, menghilangkan jejak sejarah, untuk kemudian dijadikan sebuah mall (katanya) sebagai tempat main bagi orang-orang tanpa akar.. hiks
Untuk banyak foto, seorang kenalan bernama Yoan menampilkan mereka di sini.
Untuk sedikit ulasan sejarah yang dimuat di Harian Kompas, bisa dibaca di sana.
Ada sedikit ulasan oleh David Kwa (david_kwa2003@yahoo.com) di milis Budaya Tionghoa & Sejarah Tiongkok. Dec 3, 2008 9:21 pm (PST).
Sebagai tambahan mengenai Gedung Kapitan Cina Oey Djie San (masa jabatan 1907-1916) di Karawaci Bedeng ini.
Karena status kepemilikannya sebagai kediaman pejabat Tionghoa yang diangkat Belanda (Chineesche Officieren) dalam hal ini Kapitan Cina, bangunan itu diperbolehkan mempunyai sepasang singa batu (cioq- sai), bukan kilin, di depannya serta bentuk bubungan atap bergaya Ekor Walet (Yanbue heng). Bentuk atap ini ditandai dengan kedua ujung bubungannya yang mencuat ke atas macam ujung bubungan atap kelenteng.
Seperti yang mungkin pernah saya singgung sebelumnya, di masa lalu, hingga akhir dinasti Qing (1644-1911), berlaku ketentuan: sepasang singa batu dan atap bubungan bergaya Ekor Walet merupakan privilege dan hanya boleh dipakai pada bangunan pemerintahan, kediaman pejabat pemerintah, serta bangunan peribadahan (kelenteng dsb). Rumah rakyat biasa tidak diperkenankan. Mereka hanya boleh memakai atap bubungan bergaya Pelana (Bepue Heng) dan tidak memakai sepasang singa batu. Bentuk atap seperti ini banyak kita kita jumpai pada rumah- rumah-toko (ruko) Tionghoa yang masih tersisa di sepanjang Angke, Jembatan Lima, Patekoan, Jiq Lak Keng, Kongsi Besar, Tongkangan, Petak Baru, Pasar Pagi, Pasar Gelap, Toko Tiga-Toko Tiga Sebrang, Blandongan, Pintu Kecil, Gang Burung, Jembatan Batu, Pinangsia; juga di Jatinegara. Yang di kawasan Tanah Abang dan Senen sudah musnah semasa orde babe berkuasa. Yang bergaya Ekor Walet bisa dihitung dengan jari: Gedung Majoor Khouw Kim An (Candra Naya) di Gajah Mada yang sudah rusak, Gedung Luitenant Souw Thian Pie (masa jabatan 1848-1860) dan kedua putranya Luitenant Titulair Souw Siauw Tjong — (masa jabatan 1877-1898) dan Luitenant Souw Siauw Keng (masa jabatan 1897-1913) di Patekoan (sejak orde babe: Perniagaan), gedung yang kini dijadikan bangunan gereja Santa Maria de Fatima di Toasebio (sejak orde babe: Kemurnian III) dan tentunya Gedung Oey Djie San ini. Selain itu juga, gedung sekolah negeri di Pejagalan (atapnya terlihat jelas dari jalan layang Jembatan Lima-Pintu Besar Utara), gedung seputar (depan?) Pertokoan Chandra di Pancoran, yang hanya bisa terlihat jelas dari lapangan parkir di belakangnya, dan Toko Lautan Mas di Toko Tiga. Dua yang disebut terakhir ini rupanya oleh pemiliknya sengaja dipatahkan. Ekor Waletnya yang ujungnya terbelah dua, supaya terkesan mirip Pelana, yang sebenarnya lebih rendah status sosialnya.
Oleh sebab sangat sedikitnya bangunan bergaya atap ekor Walet, selain kelenteng-kelenteng , di Jakarta, masyarakat lebih mengenal bangunan bergaya Ekor Walet sebagai bangunan kelenteng, sehingga ada beberapa pihak yang alergi kalau rumahnya dibilang mirip kelenteng. Akibatnya terjadilah: ujung bubungan atap Ekor Walet sengaja dipatahkan agar tampak mirip dengan Pelana!!! Ironis, bukan?
Selain itu, paseban yang terletak di muka gedung ini, bukan belakang yang menghadap kali Cisadane mempunyai ukiran cukup indah, meski barangkali masih di bawah ukiran paseban Candra Naya, yang juga sudah lenyap. Itulah sebabnya, pasebannya dipereteli dengan hati-hati, untuk kemudian dipindahkan ke lahan entah kolektor barang antik mana di Jakarta Selatan… Memasang kembali kerangka kayu sebuah paseban memang mudah, entah bagaimana dengan memasang kembali atap Ekor Waletnya yang terbuat dari semen. Bila kita perhatikan Ekor Walet sebuah bangunan tradisional, misalnya Gedung Keluarga Souw, maka akan kita dapati Ekor Waletnya membentuk busur yang luwes, bukan sebuah garis lurus yang tiba-tiba dicuatkan kedua ujungnya begitu saja! Berbeda jauh dengan kebanyakan Ekor Walet buatan sekarang, yang tampak kaku, sebab bukan dikerjakan oleh ahlinya.
Hari Rabu kemarin, aku diberi sebuah buku oleh seorang teman bernama Adityawarman. Ia baru saja selesai mengolah tesis S2 dan menerbitkannya sebagai sebuah buku.

Aku belum baca habis buku berisikan banyak paparan mengenai propaganda, citra, dan aplikasi desain grafis di ruang politik.
Hari ini, Jumat, 5 Desember 2008, buku ini akan diluncurkan untuk pertama kali di sebuah kedai kopi di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Berikut ini undangan yang aku terima untuk diteruskan.
UNDANGAN NGOBROL SORE
Diskusi buku
Propaganda Pemimpin Politik Indonesia - Mengupas Semiotika Orde Baru Soeharto (Arief Adityawan S., Jakarta: LP3ES, 2008)
Pembahas: Ignatius Haryanto - Lembaga Studi Pers Pembangunan (LSPP)
Waktu: Jumat 5 Desember 2008 Pukul 17.00
Kafe Darmint, Jl. Tebet Utara I no. 8 Jakarta Selatan
Diskusi disertai pameran fotografi “10 Years Later - Refleksi 10 Tahun Reformasi 1998, oleh Kurnia Setiawan.
Buku ini membahas desain grafis dari media propaganda politik dari Soeharto hingga SBY, selain juga membahas media kontrapropaganda yang dibuat berbagai LSM. Pembahasan dilakukan dengan memanfaatkan kajian Semiotik. Mesin propaganda Soeharto bekerja dengan mereproduksi ideologi Bapak Pembangunan Indonesia sebagai pahlawan. Mesin propaganda ini mulai bekerja sejak tahun 1965 hingga kini, walaupun Soeharto telah wafat.
Untuk informasi lebihnya, bisa lihat di sini.
Kira-kira pukul tiga sore, minggu lalu aku mampir ke Taman Suropati, Jakarta Pusat.
Taman di tengah kota itu terlihat relatif bersih dan lumayan banyak pengunjungnya.


Menurut kabar, setiap minggu ada kelompok yang memainkan biola dan peralatan musik klasik lainnya di taman itu. Wow, sedap benar..
Kemudian, aku terpikir dan membuat coretan untuk sebuah kemungkinan. Tak peduli apakah ia akan direalisasikan atau tidak, aku menamakan pikiran itu: ‘.. semoga angin segar menyertai pantatmu..’ (SASMPmu).
SASMPmu berupa sebuah kursi magenta yang terbuat dari balon udara. Ia berukuran kurang lebih empat kali empat meter persegi dengan tinggi sandarannya sampai, mungkin, 10 meter. Sekujur tubuh balon terdapat sketch, coretan, tulisan. dan di tengah dudukannya berlubang, membiarkan sebuah tangga menembusnya dari bawah. Di sekeliling kursi itu, banyak sekali kincir angin berukuran mini. Berputar karena angin, menyuarakan bunyi..

Terbayang serunya! hihi
Temanku mampir siang tadi. Salah satu berita yang dibawanya adalah soal Gedung eks Imigrasi di Jalan Teuku Umar, Jakarta.
Menurut ‘isu’, tanggal 28 November 2008 mendatang, Budha Bar yang menempati gedung karya PAJ Moojen itu akan diresmikan. Mengapa Budha Bar? Mungkin dapat ditanyakan pada Jan Farid salah satu pemilik ‘proyek’ itu. Siapa yang meresmikan? Sang gubernur DKI saat ini, Fauzi Bowo.
Mengecewakan sekali untuk mengetahui Fauzi Bowo, yang pada pertengahan tahun 2003 mendukung adanya sayembara gagasan pemanfaatan gedung publik itu, ternyata telah lupa diri dan ikut melanjutkan pengrusakan. Ia juga mengidap penyakit cepat lupa yang banyak diderita di Indonesia ini.
Dengan sangat baik, gagasan berjudul Gedung Perikatan Seni Jakarta, dari Dastin Hillery, pemenang sayembara itu, memaparkan gambaran seperti apa sebaiknya gedung eks kantor imigrasi itu dimanfaatkan. Namun, ternyata kegiatan memperoleh pertisipasi publik itu, hanya merupakan ’syarat’ yang harus dipenuhi, sehingga kemudian pemerintah daerah DKI Jakarta dapat melenggang dan melanjutkan kesewenangannya.
Gedung yang telah diperkosa habis oleh pihak pemerintah daerah dan arsitek tak bertanggung jawab itu, sekarang terlihat lebih terawat bila dibandingkan dengan tahun 2003. Jelas dirawat, karena memang ada maunya. Mau untuk diri sendiri, tanpa berpikir soal kepentingan publik - walau sebenarnya gedung itu adalah milik publik.
Benar-benar memalukan! hiks..
laporan-final-imigrasi.doc