Obrolan Warga di Taman Suropati

April 20th, 2013 § 0 comments § permalink

Memperingati Hari Kartini dan Hari Bumi
21 April 2013

Hari Kartini, Hari Bumi

Kegiatan ini merupakan acara yang digagas untuk berbagi pengalaman mengenai usaha memperbaiki ruang hidup kita di Jakarta, terutama yang berkaitan dengan lingkungan hidup.

Kami akan sangat bangga apabila dapat berbagi berbagi gagasan yang baik bagi Kota Jakarta dan penghuninya, dan untuk acara Hari Kartini Hari Bumi ini kami ingin menampilkan para pembicara sebagai berikut;

1. Ukke Kosasih, Circa
Berbagi mengenai pengalamannya melatih warga dalam pembuatan handicraft,
2. Reda Gaudiamo
Berbagi mengenai buku Serial Catatan Kemarin: Na Willa dan pengalamannya menerbitkannya secara patungan,
3. Puput Ahmad Safrudin, KPBB
Berbagi mengenai gagasan Car Free Day dan penerapannya hingga hari ini,
4. Nizamudin Aulia, Team Manager ‘Sadewa Otto’, Universitas Indonesia
Tim ini akan berlaga di ajang Shell Eco-marathon, Sepang, Kuala Lumpur dengan ciptaan timnya, yaitu: mobil hemat energi. Tim ini menampilkan purwarupa (prototipe) mobil dari tim tahun lalu yang berhasil memenangkan piala,
5. Joddy Krisnadi, Mobil Elektrik Indonesia
Berbagi soal pengalamannya melakukan konversi mobil bertenaga mesin BBM ke mobil bertenaga listrik, dan suka dukanya. BioBemo juga merupakan produk ‘hasil’ kolaborasi komunitas ini.
6. Ingri Lalan, Tim mobil Etanol STKIP Surya
Berbagi soal rencana pertarungan di Sirkui Sepang, Bulan Juli mendatang,
7. Anugrah Nurrewa, BikeBdg
Berbagi soal komunitas bike-sharing pertama di Indonesia,
8. Adityayoga, Indonesier
Berbagi soal Bingkai Nusantara, komunitas yang mengajak banyak keluarga untuk berfoto bersama.

Adapun acara ini diharapkan akan dapat diselenggarakan pada;
Hari/tanggal Minggu, 21 April 2013
Bertempat di Taman Suropati
Pada pukul 08.30 – 10.30 WIB

Kegiatan
Yoga Gembira oleh Yudhi Widdyantoro, pukul 07.00 sampai 08.30
Obrolan Warga, pukul 08.30 – 10.30
Konperensi Pers Paguyuban Bemo Jakarta, pukul 10.30
Foto keluarga di taman oleh Bingkai Nusantara, pukul 10.30
Musik oleh @suROCKpatiJAMM
Gelaran;
Buku Serial Catatan Kemarin: Na Willa
Circa Handmade
Pop-up Market, Ruang kolekan
The Cookie Lady
Himpunan Mahasiswa Desain Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara

Catatan
1. Penggerak kegiatan juga akan mengundang warga yang berumah di sekeliling Taman Suropati untuk hadir dan meramaikan Obrolan Warga di Taman Surapati,
2. Pengunjung diharap menjaga kebersihan Taman Suropati dengan tidak membuang sampah, serta memungut sampah yang ditemui saat beraktivitas di Taman Suropati,
3. Membawa minum dan makanan dengan kemasan TIDAK berbahan styro-foam,
4. Pengunjung dianjurkan menggunakan kendaraan umum, berjalan kaki, bersepeda, berkendaraan tenaga listrik atau yang rendah emisi karbon,
5. Diharap pengunjung tidak merokok dalam lingkungan Taman Suropati.

Pendahuluan
Hari Bumi yang diperingati di seluruh dunia setiap tanggal 22 April dicetuskan oleh Gaylord Nelson, anggota Senat di Amerika Serikat, bersama gerakan masyarakat sipil sejak 1970. Dasar pemikiran peringatan hari bumi ini bermula dari kepedulian dan keprihatinan terhadap kondisi lingkungan hidup global yang makin memburuk akibat eksploitasi berlebihan oleh manusia. Gerakan lingkungan hidup ini menjadi semakin penting setelah isu perubahan iklim dan pemanasan global mengemuka di era 2000-an. Gerakan ini kemudian diadopsi oleh PBB sebagai Hari Ibu Bumi internasional sejak 2009. Berbagai hal terus dilakukan oleh masyarakat dunia sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan hidup. Termasuk misalnya gerakan Earth Hour yang diselenggarakan pertama kali pada 2007 oleh World Wildlife Fund Australia di kota Sydney, yaitu gerakan mematikan lampu selama satu jam, untuk penghematan enerji.

Di Indonesia gerakan untuk memperingati Hari Bumi berlangsung setidaknya sejak 1990-an. Sementara itu untuk mengurangi emisi gas buang, kota Jakarta menjalankan program Car-Free-Day, hari bebas-Mobil. Memang gerakan lingkungan hidup di Indonesia terus bergulir, walau berjalan dengan sangat lambat. Namun hal positifnya adalah bahwa upaya kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup ini terus meningkat dengan adanya komitmen, keterlibatan dan kerjasama antara warga dan lembaga-lembaga sosial, dengan pihak pemerintah dan pihak swasta. Tanpa kesadaran dan kerja sama erat antara berbagai pihak maka upaya pelestarian lingkungan hidup ini menjadi sangat sulit dan lambat.

Satu masalah di antara banyak permasalahan terpenting dalam pelestarian alam ini, adalah bagaimana menurunkan polusi akibat gas buang kendaraan bermotor. Berbagai hal yang menyebabkan lemahnya kesadaran akan polusi dari kendaraan bermotor, khususnya di Indonesia: pertama adalah kurangnya kesadaran warga di satu sisi, serta kurangnya upaya dari pemerintah untuk mendorong berkembangnya industri otomotif berbasis enerji terbarukan. Selain itu kendala lainnya tentu saja biaya tinggi yang harus dikeluarkan oleh industri otomotif untuk melakukan konversi mesin penggerak kendaraan bermotor. Indonesia dengan jumlah penduduknya yang sangat besar, dan pertumbuhan ekonominya yang terus meningkat, maka permasalahan polusi kendaraan bermotor semakin menjadi mengingat indonesia adalah pasar otomotif konvensional yang sangat besar. Bahkan memang hampir di seluruh dunia, jalan raya masih didominasi oleh kendaraan bermotor Bensin.

Permasalahan
Upaya untuk mengajak masyarakat maupun pemerintah memahami betapa pentingnya mengubah pola transportasi yang digunakan harus dimulai, walau dengan langkah yang sangat kecil dan sederhana. Lingkaran setan dalam permasalahan konversi enerji tidak akan selesai bila hanya diperdebatkan. Dalam hal ini maka BioBemo sebagai salah satu upaya gerakan akar-rumput yang sangat sederhana dan kecil untuk megatasi masalah polusi. Biobemo adalah upaya gotong-royong warga untuk meremajakan Bemo berbahan bakar bensin campur yang polutif, dikonversi menjadi bemo listrik tanpa emisi gas buang. Pemahaman Biobemo ramah-lingkungan memang mempunya catatan penting, bahwa penggunaan listrik di DKI, sementara ini masih berbasis pembangkit tenaga listrik yang belum menggunakan enerji terbarukan.

Tujuan Program Biobemo ini adalah agar bemo dapat kembali hidup di kota Jakarta ini, menghidupi kota Metropolitan ini, selain menghidupi juga warga pengemudi Bemo yang selama ini makin terpinggirkan oleh kemajuan jaman. Dengan skala kerja demikian maka upaya ini tidak dapat dilihat dalam kerangka pikir manufaktur atau industri besar padat-modal. Biobemo merupakan bagian dari upaya ‘survival’ para pengemudi Bemo, dengan inisiatif dari Yayasan Aikon yang nirlaba, untuk memperbaiki nasib pengemudi Bemo itu sendiri maupun kondisi tranportasi publik agar lebih ramah-lingkungan. Penting untuk digaris-bawahi adalah bahwa Biobemo bukanlah program padat teknologi dan padat-modal, karena Biobemo adalah program pemberdayaan sosial dari masyarakat warga kota secara gotong-royong, memanfaatkan teknologi tepat-guna dan ramah-lingkungan berbiaya terjangkau, dengan memperhatikan aspek budaya dan historis.

Mengapa dimulai dari Bemo? Hal ini karena Bemo sebagai transportasi publik yang masih terus dibutuhkan untuk lingkungan pemukiman warga, juga memiliki nilai historis dan ‘tabungan emosional’ tinggi di warga penggunanya. Nama Bemo berasal dari kata “becak motor” yang menjelaskan upaya pemerintah mengganti dan memodernisasi transportasi publik dari Becak menjadi kendaraan bermotor. Bemo yang nama aslinya Daihatsu Trimobile, masuk ke Jakarta pada era Soekarno, menjelang diselenggarakannya Ganefo (Games of Emerging Forces Organization) pada 1963. Sejak itulah Bemo menyebar di berbagai kota di pulau Jawa.

Dalam waktu dekat diharapkan pengembangan Biobemo akan dibangun berbasis open source, artinya rincian teknis dalam proses peremajaan Bemo menjadi Biobemo akan dibuka seluas mungkin sehingga dapat diakses siapapun secara gratis. Dengan demikian pengemudi Bemo atau siapa pun yang minat, dapat membangun atau merakit Biobemo sendiri tanpa harus melalui sejenis produsen otomotif ataupun perantara/dealer Bemo. Pengemudi atau pemilik Bemo dapat memesan langsung perangkat motor listrik ke pabriknya untuk kemudian memasangnya sendiri, dengan asistensi dari aikon :: Yayasan Pikir Buat Nusantara, apabila dibutuhkan. Dengan sistem demikian diharapkan Biobemo dapat semakin mudah dan meluas penggunaannya.

Pembicara + Partisipan

Adityayoga, Indonesier
{bingkai nusantara} sebuah inisiatif sederhana yang sadar akan kekuatan “kehangatan keluarga” mengajak semua individu untuk mempererat ikatan keluarga dalam sebuah bingkai memori yang terekam dalam sebuah lembar foto keluarga. “Satu Keluarga se-Nusantara” menjadi jiwa {bingkai nusantara} untuk mengajak seluruh Indonesier* berbagi foto keluarga, dan dengan sadar menjadi satu keluarga yang hangat dari sabang sampai merauke. {bingkai nusantara} adalah sebuah inisiatif dari www.hiduplahindonesiaraya.com dengan kegiatan yang dilaksanakan oleh komunitas ‘wiken tanpa ke mall’.
+62815.141.86902
bingkai.nusantara.id@gmail.com

Anugerah Nurrewa, BikeBdg
BikeBdg didirikan di pertengahan 2012, merupakan komunitas bike-sharing pertama di Indonesia. Bike-sharing adalah sebuah sistem layanan transportasi umum berupa sepeda yang dapat disewakan untuk perseorangan sebagai transportasi sehari-hari. Menyediakan sepeda yang dapat digunakan sebagai transportasi alternatif selain kendaraan bermotor yang diharapkan dapat berdampak baik terhadap pengurangan polusi udara dan suara serta kepadatan lalu-lintas. BikeBdg menyewakan sepeda yang sampai saat ini, tersebar di 10 titik shelter di kawasan Bandung.

Joddy Krisnadi, Electric Vehicle Indonesia atau Mobil Elektrik Indonesia
Sebuah proyek privat menjadi komunitas yang mengkonversi kendaraan konvensional yang berbahan bakar bensin atau solar, ke kendaraan bertenaga listrik / hybrid.
Bersama Tenny Bagindo, ia memulai komunitas ini di 2011. Saat ini anggotanya telah berjumlah 90 orang yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, saling berbagi pengalaman sekitar penggunaan energi listrik kendaraan dan lainnya. Tujuan komunitas ini adalah mendorong penghematan penggunaan bahan bakar minyak yang saat ini menipis dan akan diberlakukannya regulasi pembatasan BBM bersubsidi oleh pemerintah.

Puput Ahmad Safrudin, Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB)
+62816.897959
puput@kpbb.org
www.kpbb.org
http://ahmadsafrudin.blogspot.com/

Reda Gaudiamo
Ibu dari Soca Sobhita, istri dari Eddie Prabu ini sebenarnya sudah suka menulis sejak kecil. Tetapi baru benar-benar memanfaatkannya sebagai sumber mata pencaharian di jaman kuliah dan akhirnya berlanjut sampai sekarang. Reda juga suka menyanyi.
Meskipun pernah bekerja di lebih dari sepuluh perusahaan, karier Reda Linda Gaudiamo sebetulnya banyak dihabiskan pada bidang kreatif, dan terutama pada dunia tulis menulis. Semasih menjadi mahasiswa di Jurusan Sastra Perancis, Universitas Indonesia (1981-1986), ia telah menulis cerpen untuk mencari tambahan uang jajan.
Setelah lulus ia bekerja di pelbagai media cetak, seperti Gadis, Mode, HAI, dan Cosmopolitan. Ia pernah pula bekerja di Avon Indonesia, sebuah perusahaan kosmetik, itu pun sebagai penulis teks iklan (copywriter). Setelah itu, Reda banyak berkecimpung di sejumlah agen periklanan, dari sebagai senior copywriter sampai creative director di Ogilvy, McCann Erickson dan Bates Indonesia.
Naskahnya memenangkan Lomba Penulisan Cerita Pendek Majalah Femina (1990), Lomba Penulisan Novel Femina (1990), dan Lomba Penulisan Cerita Pendek Majalah Gadis (1991). Cerpennya dimuat dalam buku kumpulan cerpen Gallery of Kisses & China Moon (2002 & 2003). Sementara, kumpulan cerita pendeknya, Bisik-bisik, diterbitkan oleh EKI Press pada 2004.
Bersama Ari Malibu, ia membuat musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono. Albumnya antara lain Hujan Bulan Juni (1989), Hujan dalam Komposisi (1996), Becoming Dew (2007). Akan ke Manakah Angin merupakan rekaman lain, yang juga merupakan musikalisasi puisi Emha Ainun Najib, Acep Zamzam Noor, dan AGS Arya Dipayana.
Kini tamatan program S2 Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia yang lahir di Surabaya, 1 Agustus 1962 ini sedang asyik menimba pengalaman baru di dunia minyak dan gas, setelah sebelumnya selama 4 tahun menjadi penerbit untuk tujuh majalah perempuan dari grup Kompas-Gramedia: Kawanku, Sekar, CHIC, Prevention, InStyle, MORE, dan Martha Stewart Living. Pada 2008 ia terpilih sebagai salah satu dari 14 penulis yang diundang mengikuti Ubud Writers & Readers Festival.
@RedaGaudiamo
http://madametigresse.blogspot.com/
facebook: Reda Gaudiamo

Pop-up Market
Merupakan bagian dari Ruang Kolekan, gerakan konversi amal. Pop-up market ini menjual barang-barang beraneka ragam, mulai dari barang sandang, aksesoris, karya foto, dan lain-lain yang dikirim publik. Seluruh hasil penjualan dari pop up market ini akan disumbangkan untuk komunitas anak-anak pengidap kanker di Rumah Sakit Dhamais.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi;
Inggita Notosusanto: 08111.62646, inggita@gmail.com
Arief Adityawan: 0858.640.65146, arifaditya@yahoo.com
Enrico Halim: 0811.951.087, rico@aikon.org

Taman Suropati

April 20th, 2013 § 0 comments § permalink

B. Dharmawan Handonowarih

Kehadiran Taman Surapati (Burgemeester Bisschopplein) tidak dapat dilepaskan dari Menteng, sebuah kota taman pertama di Indonesia, yang dibangun oleh P.A.J. Moojen (1879-1955). Dalam buku ‘Menteng’ (Adolf Heuken dan Grace Pamungkas, 2001), disebutkan Taman Suropati merupakan pusat Menteng. Ini adalah tempat pertemuan poros timur-barat dan utara-selatan. Seperti kita ketahui, poros utama Menteng adalah jalan Teuku Umar.

Sebagai kota taman, selain Taman Suropati, Menteng juga mempunyai 23 taman yang lain dalam ukuran besar dan kecil. Terdapat hal-hal menarik yang terjadi di sekitar Taman Suropati. Misalnya, sedikitnya terdapat 4 gedung kuno, yang sampai sekarang masih bertahan di sekitar taman ini. Yang pertama adalah Gedung Bappenas. Gedung ini ditempati Bappenas sejak 1967. Menurut buku ‘Menteng” (2001), gedung ini dirancang oleh Algemeen Ingenieursen Architecten Bureau (AIA) sekitar tahun 1925. Sebelumnya, gedung ini merupakan tempat pertemuan vrijmetselaar, organisasi internasional yang merahasiakan sebagian kegiatannya. Salah satu anggotanya adalah Bisschop. Ia menjadi walikota Batavia (1916-1920). Namanya kemudian dijadikan nama taman ini.

Gedung tua yang lain adalah kediaman resmi Duta Besar Amerika Serikat, yang terletak di sudut jalan antara jalan Imam Bonjol dan jalan Taman Suropati. Pada mulanya, rumah bertingkat dua ini merupakan rumah direksi perusahaan Inggris, Wellenstein  Krausse and Co, pengekspor teh Jawa Barat. Gedung ini dirancang oleh  arsitek J.F.L. Blankenberg (1926-1939). Arsitek yang sama juga merancang rumah di jalan Taman Suropati No. 3 -   yang masih terawat -  yang kini dihuni oleh pejabat Kedutaan Besar AS. Satu gedung lainnya adalah kediaman resmi Gubernur Jakarta, di pojok jalan Taman Suropati dan jalan Besuki. Rumah Duta Besar India, terletak di samping kediaman Gubernur DKI, yang awalnya dibangun untuk konsul Italia.

Sampai tahun 1980-an, Taman Suropati menampilkan wajah taman yang “tertutup”. Seluruh  taman berpagar. Dan di balik pagar terdapat tanaman yang padat rimbun. Terdapat pintu masuk dari jalan Teuku Umar dan jalan Diponegoro. Kursi-kursi, seluruhnya terbuat dari semen dengan sandaran. Pada pagi hingga sore, di samping pagar pembatas, terdapat penjual lukisan yang menderetkan lukisannya pada pagar pembatas taman. Umumnya menampilkan lukisan pemandangan, flora dan fauna, dalam pigura-pigura besar. Dari sini dikenal istilah “seni lukis Taman Suropati”. Pada pagi hari, warga Menteng jogging keliling taman ini.

Sejak tahun 1980-an, lahan di Taman Suropati diisi pula dengan sejumlah patung ASEAN. Pada tahun 1990-an, taman ini menjadi tempat markas tentara dalam tenda-tenda, yang menjaga kawasan Cendana, karena demonstrasi mahasiswa yang terus menerus terjadi, menentang Soeharto.  Pada tahun 2005, Gubernur Sutiyoso memindahkan patung RA Kartini, dan menggantinya dengan patung Pangeran Diponegoro.  Patung Kartini merupakan pemberian pemerintah Jepang pada tahun 1963. Sutiyoso pada waktu itu berkeinginan setiap jalan protokol di Jakarta yang menggunakan nama pahlawan, dihiasi patung yang sesuai dengan nama jalan tersebut. Patung Diponegoro dibuat oleh Munir Pamuntjak, berdasarkan lukisan Hendra Gunawan.  Patung ini merupakan hibah dari perusahaan Grup Ciputra dengan nilai Rp10milyar. Akan halnya patung Kartini, kemudian dipindahkan ke Monas sektor timur. Tahun 2013, sejalan dengan perbaikan taman di jalan-jalan protokol, Dinas Pertamanan DKI menambah tanaman-tanaman semak, seperti keladi, palem kuning, heleconia, di bawah pohon-pohon besar yang sebelumnya ada.  Sementara itu, semakin banyak warga kota yang datang dengan kendaraan bermotor  maupun kendaraan umum, ke taman ini, melakukan berbagai aktivitas.

+++

Data diambil dari buku ‘Menteng, Kota Taman Pertama di Indonesia’ (Adolf Heuken dan Grace Pamungkas), Cipta Loka Caraka, 2001

Horee.. Buku Manual Bemo Terbitan 1972

January 19th, 2013 § 5 comments § permalink

Siang itu, aku mampir ke sebuah toko penjual suku cadang bemo sejak 1960an.

IMG_2304
Aku diperbolehkan menggandakan buku manual ini. Terbitan produsen bemo: Daihatsu Kogyo Co., 1972.

Senangnya..

IMG_2322

IMG_2323

Namanya buku manual di dalamnya banyak pengetahuan soal komponen asli..

IMG_2307

IMG_2308

IMG_2309

Semoga satu saat nanti, aku dapat kembali untuk mendengar cerita zaman dulu mereka :)

Obrolan Siang dengan PBJ

January 12th, 2013 § 2 comments § permalink

PBJ itu singkatan dari Paguyuban Bemo Jakarta. Konon kelompok pengemudi bemo Jakarta ini didirikan tahun 2002.

IMG_2297

Ketuanya Pak Boyo Hidayat. Siang itu aku mampir ke rumahnya di Jalan Ampera 7, Pademangan, Jakarta Utara, ngobrol. Di sana ada Pak Didi, wakil dan ketua kelompok pengemudi bemo di kawasan Mangga Besar, dan mas Ujang anaknya yang menjadi koordinator di Kawasan Beos.

IMG_2295

IMG_2296

Simak sepotong obrolannya di sini.

Adapun surat yang diajukan Paguyuban di Bulan April 2010, adalah berikut ini;
h0 h1 h2 h3 h4 h5 h6 h7

Bemo Beos Siang Itu..

January 11th, 2013 § 3 comments § permalink

Angin mempertemukanku dengan pak Joni, pengemudi Beos, Jakarta. Darinya aku dikenalkan dengan pak Ujang yang dibilang ‘penguasa’ bemo di kawasan Utara Jakarta itu. Ia bergelut dipermasalahan becak-motor meneruskan usaha ayahnya, pak Boho.

Pak Ujang anggap bemo yang masih bisa beroperasi saat ini di Jakarta adalah ‘hasil’ demo para pengemudi bemo di 2010. Waktu itu, beberapa bemo ‘tergaruk’ aparat, yang mengantungi Peraturan Daerah yang melarang bemo operasi di Jakarta. Hal ini memicu demo besar yang dilakukan oleh banyak pengemudi bemo dari berbagai wilayah kota. Mereka mendatangi Dinas Perhubungan untuk meminta bemo yang disita untuk dikembalikan, serta menuntut adanya ‘solusi’ bagi para pengemudi bemo di kemudian hari. Tidak berhasil menemui yang berwenang di kantor dinas itu, pendemo mendatangi balai kota, berharap dapat menemui Gubernur Fauzi Bowo. Mendapat dukungan dari Ibu Wanda Hamidah, anggota DPRD DKI Jakarta, hari itu diakhiri dengan adanya ‘kesepakatan abu-abu’. Pengemudi bemo ‘diperbolehkan’ beroperasi kembali, walau Peraturan Daerah tidak dicabut.

Menurut pak Ujang, nasib pengemudi bemo kini adalah ‘kebaikan’ yang diberikan oleh pemerintah kota. Entah sampai kapan.

Saat ini ada 45-an buah bemo yang ‘tercatat’ di kawasan Beos, Jakarta Kota. Konon 75% di antaranya aktif beroperasi. Setiap harinya, seorang pengemudi bemo perlu menyetor ke pemilik bemo sebesar Rp 75 – Rp 85 ribu. Untuk bensin dan minyak pelumas, kurang lebih menghabiskan Rp 80ribu. Di luar Rp 160 ribuan itu pengemudi bemo membawa pulang uang sebesar Rp 50 ribuan perhari. Menurutnya, jumlah ini adalah yang terbesar bila dibandingkan dengan penghasilan pengemudi bemo yang beroperasi di kawasan lain, seperti Manggarai, Karet, Bendungan Hilir, maupun Grogol. Besarnya pendapatan ini dikarenakan banyaknya penumpang yang perlu diangkut, dan juga karena adanya ‘penjagaan’ dan negosiasi dengan angkutan kota lain, yang memiliki trayek kurang lebih sama.

Melihat bemo yang parkir berjejer di samping Stasiun Jakarta Kota siang itu, terlihat para pengemudi memelihara kendaraannya dengan baik. Walau badan bemo ‘cecel-bocel’ dengan las sembarang dan dempul tebal, namun dari kejauhan, mereka tampil meriah dan bersih. Bagian belakang, tempat penumpang duduk berhadapan, dibuat lebih panjang dari aslinya yang 125 sentimeter, menjadi kurang lebih 175 sentimeter. Pemanjangan badan bemo ini untuk mengakomodir lebih banyaknya penumpang yang dapat diangkut dalam sekali jalan.

Sepertinya akan seru dan berguna bila bemo-bemo ini direvitalisasi, dijadikan ikon kota, seperti Jeepney di Filipina atau Tuktuk di Thailand. Dengan demikian, kemungkinan adanya kehidupan yang lebih baik akan muncul.

Angin.. angin.. berhembuslah ke arah perbaikan nasib para pengemudi bemo.

Buku Reda Terbaru: Na Willa

July 30th, 2012 § 3 comments § permalink

IMG_1024_dummy

Na Willa
Serial Cerita Kemarin

Buku ini mengungkap kenangan seorang anak kecil, bernama Na Willa, yang tinggal di kampung kecil, pada suatu masa di akhir tahun 60-an. Bersama ibu dan ayah, Na Willa yang selalu ingin tahu ini menjalani hari-harinya dengan banyak warna. Dari main layangan sampai membongkar radio. Dari main hujan hingga masuk sekolah.
Diterbitkan dengan niat sederhana saja: menjadi buku bacaan untuk siapa saja yang saat ini jadi anak kecil, pernah jadi anak kecil dan punya anak kecil.
Pertama kali diluncurkan dalam bentuk catatan/ ‘notes’ di halaman FaceBook Reda Gaudiamo dan juga blog-nya. Ternyata banyak yang meminta ‘petualangan’ Na Willa menjadi buku. Cerita lantas ditambah, agar bisa dijadikan buku, lalu diberi gambar. Dan siap berangkat diterbitkan.

Wirausaha Telur Makmur

June 26th, 2012 § 1 comment § permalink

Pak toni siang itu ditemu di kawasan kemanggisan. Ia tinggal di Blitar, dekat makam bung karno.

Setiap minggu, pak Toni mengarungi pantura 16-24 jam perjalanan ke Jakarta, mengantar pesanan telur ayam.
Dengan dua kali mengisi solar di tengah perjalanan, ia mengeluarkan Rp 750 ribu. Biaya ini tertutup dengan ongkos yang dibayar oleh pemesan, sebesar Rp 2juta per truk

Setiap pengiriman, ia mengangkut 320 tumpuk x 9 lapis kertas telur = 5 ton= 3,500 butir, senilai Rp 65 juta

Di kampungnya di Blitar, telur ayam itu dijual Rp 9rb/kg. Ia menjualnya Rp 13 ribu per kilogram pada pedagang besar, yang kemudian menjualnya eceran di pasar atau dari kiosnya seharaga Rp 19 ribu per kilogram.

Konon pak Toni memperoleh untung minimal Rp 5juta per sekali kirim.

Setelah membongkar muat telur-telur itu, ia akan ke Pulo Gadung. Langganan lain. Ia biasa mengangkut bahan pakaian dari sana ke Blitar dengan ongkos angkut yang sama.

Ia bersemangat sekali bolak-balik pantura, sendiri, tanpa kenek.
Senang mendengar cerita pak Toni siang itu..

catatan: harga ‘tatakan’ bubur kertas itu Rp 300,- per lembarnya

Obrolan Hilmar Farid: Pramudya Mencari Rumah

June 17th, 2012 § 0 comments § permalink

Rabu sore, 14 Juni 2012 di Reading Room, Kemang Timur, Jakarta.

Rahung memasak bebek garo rica, yang enak, tidak amis.. bumbu rempahnya terasa benar. Sayur pakisnya agak cair, namun padat rasa. Masakan Coki mendahului pembicaraan santai sore itu di Reading Room. Reading Room adalah tempat baru Richard Oh dan Tommy Awuy di Kemang Timur, Jakarta.


Sore itu, Fay mengemukakan ‘temuan2′ nya dalam tulisan-tulisan Pramudya Ananta Toer, yang kemudian menghubungkan mereka dengan konteks ‘nation’ Indonesia.

Surat si Ika: Why Art Mechandising?

April 15th, 2012 § 1 comment § permalink

  1. Karena jualan karya original susah.
  2. Karena walaupun ada orang yang ingin beli karya original, mereka belum tentu punya uangnya.
  3. Karena karya original susah dibawa ke mana-mana apalagi kalau udah dibingkai segala.
  4. Karena gue ingin sebanyak-banyaknya orang melihat dan tahu tentang karya-karya gue lalu berharap semoga mereka lantas ingin memilikinya.
  5. Karena karya yang dipakai dengan karya yang tidak bisa dipakai mestinya sama menyenangkannya buat siapapun yang memilikinya.
  6. Karena ingin bisa hidup dari karya-karya seni gue suatu hari nanti.

Terlepas dari semua alasan di atas, gue bikin kolase. Sebuah bentuk karya yang selain tidak umum tekniknya, juga tidak banyak yang membuatnya disini. Akibatnya, perjalanan yang mesti gue tempuh (Halah!), untuk membuat orang ingin membeli karya semacam ini, jadi jauh lebih lama dan berliku prosesnya. Saking seringnya mesti menjelaskan apa itu kolase, gue sudah mulai merasa mungkin sebaiknya gue bikin video tentang proses pembuatannya. Video itu lalu diletakkan di meja saat berjualan. Ini baru tentang proses pembuatan karya lho, cin! Lalu kapan dagangnya, bila proses bikin karyanya saja orang belum tahu?

Nah, di sinilah merchandising gue menjadi makin penting perannya. Karena saat karya gue sudah berbentuk merchandising, orang menjadi lebih gampang mengapresiasinya. Mereka bisa suka karena warnanya, gambar atau bentuk produk itu sendiri. Ini berarti; gue sudah berhasil memperpendek proses panjang tadi dan bisa memulai cerita tentang karya gue.

Itu tadi satu keuntungan dari merchandising yang gue bikin. Sekarang mari kita bicara tentang pemasaran atau penjualan merchandising yang menurut gue memang beda caranya dengan menjual karya original. Eh apakah ada yang mau berbagi tentang bagaimana jualan karya original? Hihihi! Kalo ada, gue mau dong!

Seni instalasi Ika Vaniati di Fashionation, April 2012

 

Dengan kondisi kalau jualan merchandising pun mesti dipikirkan strategi dan efektifitasnya, berikut ini hal-hal yang biasa gue lakukan:

Gue jarang stock up atau ready stock, karena nggak mau barang menumpuk dan tidak menjadi uang. Jadi gue produksi hanya pas mau ada kesempatan berjualan atau adanya pesanan. Kalau pesanan datang pun gue selalu minta dibayar lunas di depan ataupun setidaknya bayar separuhnya dulu. Ini memastikan juga jadi kita tahu pembelinya serius atau tidak.

Setiap ada tawaran jualan gue usahakan untuk mengetahui dulu siapa yang akan datang di acara itu. Usia, pekerjaan dan jenis kelaminnya. Karena kan anak kuliahan perempuan sama mas-mas kantoran pasti beda barang-barang yang menarik serta bisa mereka beli, bukan? Nah pastikan berbagai karakter pembeli yang kira-kira akan ada di sana terpenuhi dengan barang-barang gue ini.

Karena gue jualan barang buatan tangan atau hanya dibuat dalam jumlah terbatas, maka gue berusaha menceritakannya di semua kemasan produk gue. Deskripsi produk bisa panjang atau pendek, dan diletakkan di sebelah harga produk.

Jangan malas ngobrol! Setiap kali ada orang yang datang ke stand gue walaupun dia hanya pegang-pegang aja gue tetap menceritakan produk gue. Itu adalah waktu dimana setidaknya gue berkesempatan membuatnya tertarik – walau di akhir, ia hanya minta kartu nama. Jangan salah, yang ambil kartu nama ini bisa jadi, menghubungi setelah acara dan bicara tentang pembelian atau pemesanan barang lainnya.

Kartu nama, ibu-ibu dan bapak-bapak! Selalu bawa kartu nama ke manapun kita pergi dan jangan lupa meletakkan kartu nama di stand kita. Percaya deh! Ini awal dari banyak hal-hal menyenangkan di kemudian hari. Kalaupun mereka tidak membeli, tapi mereka sudah punya kontak kita dan bisa tanya-tanya misalnya kalau ada produk baru atau lain sebagainya.

Belajar bikin display jualan yang beda-beda dan menarik. Tahu yang mana yang produk unggulan mana yang produk tambahan. Kalau kita memang punya benang merah yang membuat karya-karya kita menjadi berbeda, namun saat yang sama kita juga ingin menjual barang yang sama sekali berbeda, pastikan tampilan stand atau meja kita memperlihatkan itu. Barang-barang jagoan harus lebih dominan daripada barang-barang pendukung.

Harga. Banting harga boleh, tapi kalau memang pembeli membeli banyak. Jangan mau ditawar seenaknya, ya! Kita kan jualan barang yang dibuat dengan cinta dan air mata begini, masak iya mau dinilai seharga barang kodian di Mangga Dua. Setuju cin?

Lain kali, gantian elo yang kasi tau gue apa yang lo lakuin pas jualan merchandise.

Terimakasih banyak buat Popoh, Sigit, Ameng, dan Ruang Rupa yang mengorganisir pameran ini. Terimakasih juga buat sesama peserta pameran: Cubatees, Recycle Experience, P.A.L.U, Jah Ipul, Kamengski, dan Komunitas Pecinta Kertas (KPK).

Sampai bertemu di pameran dan kesempatan jualan di lain waktu yaw!

Ika Vantiani
0812 87884432
iniakuika@gmail.com
www.vantiani.etsy.com
(teuteup jualan!)
www.ikavantiani.blogspot.com

Dua Gunung, Satu Matahari dan Bemosakti

March 12th, 2012 § 0 comments § permalink

Minggu sore di Galeri Foto Jurnalistik Antara

Menggambar

Suasana gaduh menjadi tenang saat 37 orang anak itu mulai menggambar. Mereka dibagi dalam 5 kelompok. Masing-masing kelompok mengelilingi sebuah kotak crayon, yang terdiri dari 36 warna itu. Sebelum anak-anak mulai menggambar, koordinator program revitalisasi Bemo, meminta anak-anak untuk menggambar bebas, namun dengan gambar Bemo di dalamnya. Awalnya beberapa anak menyatakan “Susaah gambar bemo..”. Namun mereka tetap mencobanya.

Satu per satu mereka menyelesaikan gambarnya. Banyak di antara mereka masih menggambar dengan pola dua gunung dan matahari. Hal ini merupakan fenomena menyedihkan yang umum terjadi dalam pelajaran seni rupa sekolah-sekolah negeri di Indonesia. Demikian banyak anak di Indonesia secara otomatis berpikir bahwa menggambar pemandangan adalah menggambar dua gunung dengan matahari di tengahnya. Menurut ahli kreativitas dan seni rupa anak, Profesor Primadi Tabrani, sistem pendidikan seni rupa yang salah di sekolah-sekolah dasar negeri menghilangkan potensi kreatif anak Indonesia. Termasuk saat-saat seorang guru memberi contoh di papan tulis dengan sebuah pemandangan dua gunung dan satu matahari. Atau sistem belajar yang melulu disiplin kaku dan hafalan, yang menganggap otak manusia seperti alat perekam belaka. Untungnya masih ada beberapa gambar anak yang terbebas dari jenis gambar ‘dua gunung dan satu matahari’ itu.

Ketika dimintai pertolongan, salah seorang peserta Sendi yang berumur 13 tahun tanpa banyak bicara langsung membantu panitia untuk menempel gambar di bawah tangga, di tengah galeri. Akhirnya tangga semen kelabu dilapis besi berkilat dingin itu berubah menjadi ‘ceria’. Anak-anak terlihat memandang dengan binar, binar kebanggaan.

Memberi Nama Bemo

Selesai menggambar mereka mendapat guntingan kertas tempel berwarna-warni untuk memberi nama pada Bemo yang akan berfungsi sebagai pengangkut internet keliling (Netling) dan www.patungan.net. Bemo itu semula diberi nama Dewi Lanjar. Huruf ‘L’ nya kemudian dihilangkan – menjadi Dewi Anjar – dengan harapan bemo itu menjadi tidak sering mogok. Pak Kinong, si pemilik lama, menganjurkan untuk ganti nama. Harapannya setelah ganti nama, bemo itu tak akan lagi punya masalah. Sticker-sticker yang sudah mereka tulisi dengan usulan nama, kemudian mereka tempel pada bagian muka Bemo. Walhasil, kaca depan bemo dipenuhi kertas tempel warna-warni berbentuk bintang, segitiga dan lingkaran.

Nama-nama hasil karangan ke-37 anak itu beragam, mulai dari nama-nama ‘kreatif’ seperti: Indonesia vs Malaysia, Embi, Barang Antik, Bawang, Toxa, Moto, Bomo, Jeyo, atau nama binatang seperti Bleki, Mongki, T-Rex, Atau nama orang: Toyip, Jongki, Tongki, Junior, James. Sebagian lagi memberi nama ‘besar’ seperti Bima Sakti, Indonesia, Jagur, Bintang Bercahaya, Bintang Bersinar, Cahaya Matahari, Dewi Sri, Dewi Langit, Jaya Putra, Jaya Putri, Kusuma Cahaya, Dwi Kusma, Sinar Cahaya. Ada juga dengan kata “Bemo” seperti: Dewa Bemo, Bemo Cinta, Bemo Ajaib, Bemo yang bersinar di Jalan.  Rencananya panitia akan memilih salah-satu dari usulan nama-nama itu untuk menjadi nama baru dari Bemo.

Setelah bersama-sama membersihkan galeri, rombongan anak-anak, ibu, dan pengemudi Bemo itu pulang. Keempat Bemo bersuara khas itu meninggalkan Galeri Antara, dimana karya-karya gambar mereka terpajang. Kegiatan singkat dan sederhana ini memang sekedar ‘piknik’ kecil ke sebuah pameran di bangunan tua. Semoga saja kegembiraan sore itu dapat memberi kesan dan manfaat bagi ke-37 anak Karet Bivak itu.