30 Tahun Hasta Mitra

April 17th, 2010 § 0

Undangan mengenang sebuah perlawanan, merayakan perjuangan “Hasta Mitra: Mencerdaskan Bangsa lewat Buku” Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) dan Jaringan Videomaker Independen (JAVIN) mengundang rekan-rekan untuk hadir dalam peringatan 30 Tahun berdirinya Hasta Mitra pada;

Selasa, 20 April 2010, pukul 17.00 hingga selesai
Di: Rumah Dolorosa Sinaga, Jl. Pinang Ranti No. 40 RT 015/RW 01, Pinang Ranti, Pondok Gede, Jakarta Timur (perempatan Garuda, seberang Tamini Square).
Acara: Pemutaran film dokumenter tentang Hasta Mitra oleh JAVIN
Perbincangan: Jejak langkah Hasta Mitra dalam mencerdaskan bangsa Bersama Wilson, Hilmar Farid, dan keluarga pendiri Hasta Mitra Pameran sejarah pelarangan buku dan buku-buku produksi Hasta Mitra.

Sekilas Hasta Mitra

April tiga puluh tahun silam, tepat ketika rezim Orde Baru tengah mencapai puncak kejayaannya, tiga orang eks tapol (tahanan politik): Joesoef Isak, Hasjim Rachman dan Pramoedya Ananta Toer, sepakat mendirikan perusahaan penerbitan Hasta Mitra (Tangan Sahabat). Menolak menjadi hantu berkeliaran, mereka maju secara terang-terangan, mengabaikan teror dan pembatasan terhadap gerak eks tapol untuk menyebarkan buah pikiran mereka secara meluas. Sebagai langkah awal, lewat karya-karya Pramoedya Ananta Toer, yang kemudian dikenal dengan ‘Tetralogi Buru’, Hasta Mitra menyampaikan kisah yang berbeda dari versi sejarah resmi tentang perjalanan bangsa ini kepada generasi muda yang sedang resah akan nasib negerinya.

Gebrakan Hasta Mitra ternyata bukan saja menggegerkan dunia sastra Indonesia dan dunia, tetapi juga mengusik kenyamanan penguasa Orde Baru. Selang setahun setelah Bumi Manusia terbit dan memecahkan rekor penjualan buku terlaris — 5.000 eksemplar dalam 12 hari — pemerintah melalui Kejaksaan Agung melarang peredaran novel ini karena dianggap menyebarkan ajaran Komunisme. Pelarangan diikuti dengan pemanggilan dan interogasi terhadap para pengelola Hasta Mitra, serta penyitaan buku. Tindakan represif pemerintah tidak membuat trio Joesoef, Hasjim dan Pramoedya jera. Mereka melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing: Pramoedya menulis, Joesoef menyunting, dan Hasjim mencari modal usaha. Buku demi buku diterbitkan dan dilarang, namun buku-buku Hasta Mitra tetap beredar secara gerilya, terutama di kalangan aktivis pro-demokrasi, intelektual, dan pekerja kebudayaan. Penyitaan dan kesulitan memperoleh hasil penjualan gerilya membuat Hasta Mitra menanggung rugi, tapi keberanian dan keuletan Hasjim Rahman dan Joesoef Isak dalam mengelola sedikit modal dan mengolah lusinan naskah sudah membuat Hasta Mitra bertahan sebagai ‘penerbit buku bermutu’ sampai akhir hayat para pendirinya.

Sepanjang 1980-1998 Hasta Mitra adalah badan penerbitan yang bukunya paling banyak dilarang Kejaksaan Agung. Pemerintah seakan melihat bagaimana terbitan Hasta Mitra sudah menjadi inspirasi dan sumber pengetahuan baru bagi para aktivis gerakan pro demokrasi. Di masa itu membaca buku-buku Hasta Mitra adalah wajib bagi mereka yang peduli pada nasib bangsa dan negeri ini. Penangkapan, pengadilan dan penghukuman para pemuda yang mendiskusikan dan mengedarkan karya-karya Pramoedya Ananta Toer terbitan Hasta Mitra semakin menegaskan betapa kerdilnya rezim Orde Baru di hadapan gagasan pembebasan pikiran. Joesoef Isak, Hasjim Rachman dan Pramoedya Ananta Toer telah tiada. Tapi, jerih payah mereka tetap hidup, dalam buku-buku yang masih beredar, sebagai simbol perlawanan terhadap rezim anti-kebebasan berpikir dan berpendapat.

njalanya tak terpadamkan hingga kini nanti dan kapanpun njalanya panas menempa badja kemerdekaan badja kehidupan ketika kita tidak lagi bertanja pilih njala atau pilih badjanya? dan kita merebut kedua-duanja” Agam Wispi, “Surabaja” (1965)

Pameran: Chinatowns in Southeast Asia

January 30th, 2010 § 0

dari senarai sebelah..

“Chinatowns in Southeast Asia”, a project commissioned by the Chinese Heritage Centre in Singapore, arrives in Jakarta, Indonesia.

The opening is on 5 Feb 2010 (Friday) in Antara Photojournalism Gallery (Jalan Antara 59, Pasar Baru, Jakarta) at 7.30pm.
There will be makanan Tionghoa (Chinese food) and Barongsai (lion dance).

Artist talk, titled “Journey through the Labyrinth of Chinatowns”, will be on 6 Feb 2010 (Saturday) at 3pm.

Hope to see you there.

Zhuang Wubin
writer/photographer

Pernyataan Sikap Institut Sejarah Sosial Indonesia

December 26th, 2009 § 0

Rabu, 23 Desember 2009

Kejaksaan Agung mengumumkan pelarangan lima judul buku yang dianggap ‘mengganggu ketertiban umum’, termasuk Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto karya John Roosa yang diterbitkan oleh Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI). Sebagai penerbit buku ini dan warga yang sadar akan hak menyampaikan pendapat dan menerima informasi kami menentang pelarangan itu. Pelarangan itu tidak saja bertentangan dengan prinsip umum hak asasi manusia tapi juga amanat UUD 1945 untuk ‘memajukan kecerdasan umum.’

Institut Sejarah Sosial Indonesia menerbitkan buku Dalih Pembunuhan Massal sebagai sumbangan terhadap studi sejarah kontemporer Indonesia, khususnya peristiwa G-30-S. Dalam buku ini John Roosa menunjukkan sikap ilmiah yang terpuji sebagai sejarawan: ia mengungkapkan sumber-sumber baru mengenai G-30-S yang belum pernah digunakan sebelumnya, menelaah setiap sumber yang ada mengenai peristiwa itu secara teliti, lalu menghadirkan argumentasi dan kesimpulan berdasarkan temuannya itu. Pelarangan oleh Jaksa Agung jelas menghalangi perkembangan studi sejarah pada khususnya dan kerja ilmiah pada umumnya.

Buku Dalih Pembunuhan Massal sudah beredar selama satu tahun dan sembilan bulan, dan justru mendapat sambutan baik dari dalam maupun luar negeri. Buku ini masuk nominasi buku terbaik dalam International Convention of Asian Scholars, perhelatan ilmiah terbesar untuk bidang studi Asia pada 2007. Tinjauan terhadap buku ini dimuat dalam berbagai berkala ilmiah internasional. Di Indonesia sendiri,  buku ini disambut baik oleh para ahli sejarah, guru sekolah dan masyarakat umum dalam berbagai seminar dan pertemuan ilmiah yang digelar selama ini.

Singkatnya, jelas ada banyak pihak yang menarik manfaat dari terbitnya buku ini, dan keputusan Jaksa Agung melarang buku ini dengan alasan ‘mengganggu ketertiban umum’ sesungguhnya justru merugikan kepentingan umum.

Karena itu kami menuntut agar

1. Kejaksaan Agung segera mencabut surat keputusan tersebut dan menghentikan praktek pelarangan secara umum. Perbedaan pandangan mengenai sejarah hendaknya diselesaikan secara ilmiah, bukan dengan unjuk kuasa menggunakan hukum warisan rezim otoriter.

2. Pemerintah dan DPR segera mencabut semua aturan hukum yang mengekang kebebasan berekspresi dan hak mendapatkan informasi. Warisan kolonial dan rezim otoriter yang ingin mengatur arus informasi dan pemikiran sudah sepatutnya diakhiri.

Kami percaya bahwa pelarangan buku ini tidak akan menyurutkan kehendak publik untuk mencari kebenaran. Dengan semangat itu dan juga sebagai bentuk konkret perlawanan, dengan pernyataan ini kami melepas copyright atas buku Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto karya John Roosa kepada publik sehingga dapat disebarluaskan melalui berbagai media. ISSI juga akan mengajukan somasi kepada Kejaksaan Agung dan meminta agar larangan itu dicabut. Jika tidak dipenuhi, ISSI akan menempuh jalur hukum dan menggugat keputusan Jaksa Agung tersebut.

Jakarta, 24 Desember 2009
I Gusti Agung Ayu Ratih Direktur 0811-156-315
Hilmar Farid Ketua Dewan Pembina 0811-156-306

NB: Buku dapat diunduh di http://johnroosa-dpm.blogspot.com/

Kiper yang juga pengawal Soekarno

August 13th, 2009 § 0

Minggu lalu, aku dan Tony Siahaan berkesempatan ngobrol dengan Bapak Maulwi Saelan. Pak Saelan adalah penjaga gawang Tim Nasional PSSI di Olimpiade 1956.

DSC02393kecil

Pak Saelan bercerita mengenai bagaimana teman-teman satu tim kala itu, yang berbadan kecil-kecil, bila dibandingkan dengan tim lawan, Tim Nasional Rusia, bisa menahan serangan bertubi-tubi Tim Rusia dengan score 0-0.  Ia mengatakan:  sang pelatih, Tony Pogacnik, berhasil membuktikan bahwa kombinasi antara strategi permainan sepak bola modern dan energi yang dimiliki para pemain Indonesia dapat menelurkan hasil yang dahsyat.

Pak Saelan dengan semangat menceritakan bagaimana Tony melakukan pendekatan pada masing-masing pemain. Kesenangan, keperluan pemain, selalu diusahakan olehnya, ini demi kekompakan yang dibutuhkan oleh sebuah tim sepak bola.

Pak Saelan yang menjaga gawang sejak Asian Games pertama di New Delhi, India, tahun 1951, berhenti sebelum Asian Games ke-4, pada tahun 1962 di Jakarta, di mulai. Sebagai CPM, ia dialih tugaskan menjaga Presiden RI pertama, Ir.  Soekarno.

Macan Sepak Bola Indonesia Tahun 50an

August 4th, 2009 § 1

Umurnya baru menjadi 79 tahun minggu lalu. Tan Liong Houw tampak sehat dan bersemangat sewaktu bercerita banyak soal sepak bola di Indonesia di tahun 1950an.

DSC02384kecil

Pada saat itu, Tim sepak bola Indonesia mendapat banyak perhatian dan kesempatan untuk bertanding di dalam dan luar negara, melawan negara-negara yang sudah lebih dulu dikenal unggul di persepakbolaan dunia. Mengangkat nama Indonesia kemanapun tim tersebut bertanding, merupakan kebanggaan yang bukan hanya ‘lip-service’.

“Apalagi, kalau sudah memakai seragam dengan lambang Garuda.. Tidak bisa main-main, itu!” demikian kata Pak Tan. ” Setiap bertanding, kami itu berperang (!). Berperang untuk keharuman negeri kita! Tidak ada alasan lain!”

6vanderfin

Dengan prestasi yang dicapai dengan perjuangan keras, Pak Tan sering mendapat penghargaan atau sedikitnya potret bersama dengan para pemimpin negara, antara lain dengan Soekarno, Choe En Lain, Mao Tse Tung.

7soekarno

Ia bersyukur, bahwa nama pemberian ayahnya yang berarti Naga (liong) dan macan (houw) benar-benar dapat dijelmakan dalam rupa prestasinya sebagai gelandang kiri PSSI di tahun 1950an. Bagi dirinya, nama orde baru: Latief Haris Tanoto, tidak berarti apa-apa.

Pak Tan tidak terlalu peduli dengan ‘gonjang-ganjing’ politik dan kegiatan rasisme yang mencuat di tahun 1950an. Ia hanya ingin melakukan yang terbaik. Yang terbaik bagi negaranya yang baru saja lahir.

* foto kedua dan ketiga adalah dari koleksi Tan Lion Houw

Belajar dari Kehidupan Oey Hay Djoen

May 18th, 2009 § 1

Minggu, 17 Mei 2009

Telah berselang satu tahun Oey Hay Djoen meninggalkan kita. Satu dekade terakhir masa hidupnya dibaktikannya untuk kerja-kerja kemanusiaan, diantaranya melalui Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRuK) saat terjadi Tragedi Mei 1998. Sebagian waktunya yang lain dimanfaatkan untuk menerjemahkan karya terbesar Karl Marx, *”Kapital”, serta berbagai buku kiri lainnya. Melalui karya-karya terjemahan itu, ia menyumbangkan landasan keilmuan bagi gerakan prodemokrasi masa kini.

Sebelum Peristiwa 1965 terjadi, Oey Hay Djoen merupakan anggota PKI sekaligus salah satu pimpinan pusat Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), salah satu lembaga yang pada Maret 1966 dilarang dan dibubarkan Mayjen Soeharto. Oey Hay Djoen dan istrinya membuka rumah mereka  di Jl. Cidurian 19, Cikini, sebagai sekretariat pusat Lekra. Di rumah itulah Nyoto, Joebaar Ajoeb, Rivai Apin, Pramoedya Ananta Toer, Basuki Effendi, dan seniman-seniman Lekra lain berkumpul, mempresentasikan karya, dan mendiskusikan strategi kebudayaan mereka. Akan tetapi, Peristiwa 1965 menghentikan seluruh aktivitas Oey Hay Djoen. Selama 14 tahun, militer di bawah pimpinan Soeharto menahan dan membuangnya ke Pulau Buru. Seperti juga para eks-tapol Peristiwa 1965 lain, Oey Hay Djoen baru kembali bisa berkarya bagi publik setelah jatuhnya Soeharto.

Acaranya di adakan di Rumah Dolorosa Sinaga: Jl. Pinang Ranti No. 40 RT 015/RW 01, Pinang Ranti, Pondok Gede,  Jakarta Timur (perempatan Garuda, seberang Tamini Square).
Acaranya antara lain;

Diskusi “Belajar dari Kehidupan Oey Hay Djoen”
Pembicara: Hilmar Farid (JKB/ISSI), Amarzan Loebis (Sastrawan,
eks-anggota Lekra), Moderator: Agung Ayu Ratih

Pembacaan puisi oleh Martin Aleyda dan lain-lain

Pameran sejumlah foto lama koleksi Ibu Oey Hay Djoen

Sebuah Bangunan Tua Tangerang..

December 5th, 2008 § 0

Di Hari Kamis sore yang mendung itu, aku bersama pak Dharmawan dan pak Dipo, mengunjungi sebuah bangunan tua yang berada di salah satu pojok Kota Tangerang.

Beberapa pekerja sedang berberes, merapikan, dan menyusun batu-batu terakota hasil pencopotan dari lokasi yang bertepi dengan Kali Cisadane itu.

Sebuah rumah bergaya kolonial yang sudah kusam dan ditopang seadanya, menyambut sewaktu aku memasuki lokasi tanpa pagar itu.

Berjalan ke belakang, rumah besar bergaya Tionghoa terlihat sudah ‘dipreteli’ (hampir) habis. Beberapa kayu dan besi penopang sudah tertumpuk di halaman.

Hik.. sebuah bangunan tua kembali mengalami penjarahan, menghilangkan jejak sejarah, untuk kemudian dijadikan sebuah mall (katanya) sebagai tempat main bagi orang-orang tanpa akar.. hiks

Untuk banyak foto, seorang kenalan bernama Yoan menampilkan mereka di sini.

Untuk sedikit ulasan sejarah yang dimuat di Harian Kompas, bisa dibaca di sana.

Ada sedikit ulasan oleh David Kwa (david_kwa2003@yahoo.com) di milis  Budaya Tionghoa & Sejarah Tiongkok. Dec 3, 2008 9:21 pm (PST).

Sebagai tambahan mengenai Gedung Kapitan Cina Oey Djie San (masa jabatan 1907-1916) di Karawaci Bedeng ini.

Karena status kepemilikannya sebagai kediaman pejabat Tionghoa yang diangkat Belanda (Chineesche Officieren) dalam hal ini Kapitan Cina, bangunan itu diperbolehkan mempunyai sepasang singa batu (cioq- sai), bukan kilin, di depannya serta bentuk bubungan atap bergaya Ekor Walet (Yanbue heng). Bentuk atap ini ditandai dengan kedua ujung bubungannya yang mencuat ke atas macam ujung bubungan atap kelenteng.

Seperti yang mungkin pernah saya singgung sebelumnya, di masa lalu, hingga akhir dinasti Qing (1644-1911), berlaku ketentuan: sepasang singa batu dan atap bubungan bergaya Ekor Walet merupakan privilege dan hanya boleh dipakai pada bangunan pemerintahan, kediaman pejabat pemerintah, serta bangunan peribadahan (kelenteng dsb). Rumah rakyat biasa tidak diperkenankan. Mereka hanya boleh memakai atap bubungan bergaya Pelana (Bepue Heng) dan tidak memakai sepasang singa batu. Bentuk atap seperti ini banyak kita kita jumpai pada rumah- rumah-toko (ruko) Tionghoa yang masih tersisa di sepanjang Angke, Jembatan Lima, Patekoan, Jiq Lak Keng, Kongsi Besar, Tongkangan, Petak Baru, Pasar Pagi, Pasar Gelap, Toko Tiga-Toko Tiga Sebrang, Blandongan, Pintu Kecil, Gang Burung, Jembatan Batu, Pinangsia; juga di Jatinegara. Yang di kawasan Tanah Abang dan Senen sudah musnah semasa orde babe berkuasa. Yang bergaya Ekor Walet bisa dihitung dengan jari: Gedung Majoor Khouw Kim An (Candra Naya) di Gajah Mada yang sudah rusak, Gedung Luitenant Souw Thian Pie (masa jabatan 1848-1860) dan kedua putranya Luitenant Titulair Souw Siauw Tjong — (masa jabatan 1877-1898) dan Luitenant Souw Siauw Keng (masa jabatan 1897-1913) di Patekoan (sejak orde babe: Perniagaan), gedung yang kini dijadikan bangunan gereja Santa Maria de Fatima di Toasebio (sejak orde babe: Kemurnian III) dan tentunya Gedung Oey Djie San ini. Selain itu juga, gedung sekolah negeri di Pejagalan (atapnya terlihat jelas dari jalan layang Jembatan Lima-Pintu Besar Utara), gedung seputar (depan?) Pertokoan Chandra di Pancoran, yang hanya bisa terlihat jelas dari lapangan parkir di belakangnya, dan Toko Lautan Mas di Toko Tiga. Dua yang disebut terakhir ini rupanya oleh pemiliknya sengaja dipatahkan. Ekor Waletnya yang ujungnya terbelah dua, supaya terkesan mirip Pelana, yang sebenarnya lebih rendah status sosialnya.

Oleh sebab sangat sedikitnya bangunan bergaya atap ekor Walet, selain kelenteng-kelenteng , di Jakarta, masyarakat lebih mengenal bangunan bergaya Ekor Walet sebagai bangunan kelenteng, sehingga ada beberapa pihak yang alergi kalau rumahnya dibilang mirip kelenteng. Akibatnya terjadilah: ujung bubungan atap Ekor Walet sengaja dipatahkan agar tampak mirip dengan Pelana!!! Ironis, bukan?

Selain itu, paseban yang terletak di muka gedung ini, bukan belakang yang menghadap kali Cisadane mempunyai ukiran cukup indah, meski barangkali masih di bawah ukiran paseban Candra Naya, yang juga sudah lenyap. Itulah sebabnya, pasebannya dipereteli dengan hati-hati, untuk kemudian dipindahkan ke lahan entah kolektor barang antik mana di Jakarta Selatan… Memasang kembali kerangka kayu sebuah paseban memang mudah, entah bagaimana dengan memasang kembali atap Ekor Waletnya yang terbuat dari semen. Bila kita perhatikan Ekor Walet sebuah bangunan tradisional, misalnya Gedung Keluarga Souw, maka akan kita dapati Ekor Waletnya membentuk busur yang luwes, bukan sebuah garis lurus yang tiba-tiba dicuatkan kedua ujungnya begitu saja! Berbeda jauh dengan kebanyakan Ekor Walet buatan sekarang, yang tampak kaku, sebab bukan dikerjakan oleh ahlinya.

Sejarah Aneh?

January 25th, 2008 § 3

Abraham Lincoln masuk kongres tahun 1846.
John F. Kennedy masuk kongres tahun 1946.

Abraham Lincoln terpilih jadi presiden tahun 1860.
John F. Kennedy terpilih jadi presiden tahun 1960.

Keduanya sangat peduli hak-hak sipil.
Kedua istri mereka kehilangan anak saat di gedung putih.

Kedua presiden ditembak hari Jumat.
Kedua presiden ditembak di kepala.

Sekretaris Lincoln bernama Kennedy .
Sekretaris Kennedy bernama Lincoln .

Keduanya dibunuh oleh orang dari daerah selatan.
Keduanya digantikan oleh orang selatan yg bernama Johnson.

Andrew Johnson, yg menggantikan Lincoln , lahir tahun 1808.
Lyndon Johnson, yg menggantikan Kennedy, lahir tahun 1908.

John Wilkes Booth, yg membunuh Lincoln , lahir thn 1839.
Lee Harvey Oswald, yg membunuh Kennedy, lahir thn 1939.

Kedua pembunuh terkenal dengan tiga namanya.
Nama keduanya terdiri dari 15 huruf.

Lincoln  ditembak di teater bernama ‘Ford.’
Kennedy tertembak di mobil ‘ Lincoln ‘ dibuat oleh ‘Ford.’

Lincoln tertembak di teater dan pembunuhnya bersembunyi di gudang.
Kennedy tertembak dari sebuah gudang dan pembunuhnya bersembunyi di teater.

Booth dan Oswald terbunuh sebelum diadili.

Seminggu sebelum Lincoln  tertembak, dia berada di  Monroe, Maryland
Seminggu sebelum Kennedy tertembak, dia bersama Marilyn Monroe.

Asal-Usul Es Shanghai

November 22nd, 2007 § 3

Ditulis oleh Yan Widjaja di mailing list Budaya Tionghoa dan Sejarah Tiongkok

Tergelitik membaca tulisan mengenai Es Shanghai, jariku tergerak untuk menuliskan mengenai asal-usulnya. Soalnya, aku yakin banget meskipun kita sudah sering menikmati es tersebut, namun tak tahu sedikit pun mengapa dinamakan demikian, serta apa keistimewaan dan perbedaannya dengan es campur yg lain?

Shanghai adalah nama sebuah kota yang sangat modern di Daratan Tiongkok, sejak awal abad ke-20, jauh lebih maju bahkan dibandingkan dengan ibukotanya, Beijing (d/h Peking). Kenapa demikian? Karena Shanghai terbagi-bagi menjadi banyak daerah koloni, antaranya Jepang, Amerika, Inggris, Prancis, dan lainnya (lihat film-film kungfunya HuangFei-hung seperti Once Upon a Time in China). Boleh dibilang segala bangsa penjajah berkumpul dan mencengkramkan kuku di sini untuk menikmati kue lezat? bernama kota Shanghai.

Pada Perang Dunia Kedua, rakyat Tiongkok di bawah pimpinan Dr Sun Yat-sen bangkit untuk mengusir penjajah. Ekstrimnya sampai membenci semua orang asing, khususnya bule. Pada puncaknya, penjajah meninggalkan Shanghai setelah membumi-hanguskan-nya, membakar di daratan dan mengebom dengan pesawat terbang. Dampaknya Shanghai menjadi porak-poranda, hangus, gosong! Korban jiwa di antara rakyat jelata tak terhitung banyaknya.

Nah, Es Shanghai dibuat untuk mengenang pembumi-hangusan yang luar biasa kejam itu. Jadi yang dominan pada Es Shanghai adalah siraman kuah coklatnya yang berwarna merah-kecoklatan- kehitaman, seperti bekas terbakar, pada gundukan serutan es batu. Disisipkan pula dua potong biskuit kering wafer sebagai simbolik bangunan yang runtuh. Itu bedanya dari es buah biasa, es teler, sop buah, dlsb.nya

Dulu, pada era 1950-an, orang Tionghoa-Indonesia, sebelum menikmati Es Shanghai diam-diam memanjatkan doa dalam hati, semoga arwah para korban perang di Shanghai mendapatkan ketentraman di alam baka, barulah mulai mengaduk dan menyendoknya sesuap demi sesuap.

Believe it or not, but it’s the true story about Ice Shanghai!

Sedikit koreksi oleh Liang U … Sun Yat-sen memimpin revolusi menjatuhkan dinasti terakhir Qing (Tjeng), beliau meninggal tahun 1924, jauh sebelum perang dunia ke dua. Dalam Perang Dunia kedua yang menghancurkan Shanghai adalah orang Jepang.

70 Tahun Tragedi Nanking

November 9th, 2007 § 0

dari SUARA PEMBARUAN DAILY
\
Josef Purnama Widyatmadja
\

\
Tahun 2007 adalah peringatan tujuh puluh tahun jatuhnya Kota Nanking (Nanjing) ke tangan tentara Jepang. Peringatan kali ini istimewa karena di beberapa kota besar di dunia akan diluncurkan sebuah film berjudul “Nanking: Even in the Darkness of Times, There is Light” produksi A Ted Leonsis dan disutradarai Bill Guttentag dan Dan Sturman. Film tersebut dibuat berdasarkan buku karya Irish Chang berjudul The Rape of Nanking: The Forgotten Holocaust of World War II (1997).
\

\
Pada 9 November 2007 tiga tahun kematian Irish Chang. Ia ditemukan mati di mobilnya di Santa Clara dalam keadaan kepala tertembak. Dalam usia 36 tahun (lahir 1968) ia meninggalkan seorang suami dan seorang anak lelaki berusia dua tahun. Belum jelas apakah dia mati karena bunuh diri atau korban konspirasi pembunuhan sehubungan dengan penelitian dan penerbitan bukunya.
\

\
Buku Chang menjadi best seller dan membuka mata pembacanya adanya holocaust di Asia selama Perang Dunia II. Sebelumnya, orang hanya mengenal satu holocaust di Auswitch, kisah pembantaian orang Yahudi oleh Nazi Jerman.
\

\
Banyaknya korban selama invasi Jepang ke Nanking dilukiskan oleh Chang sebagai pembantaian manusia yang tidak ada duanya dalam sejarah dunia. Bukan hanya dalam angka, tapi juga dalam hal derajat cara yang dipakai untuk pembunuhan.
\

\
Chang memperkirakan korban sekitar 350.000 orang, hampir mendekati jumlah yang diklaim oleh pemerintah Tiongkok dan Koumintang. Sedangkan pihak Jepang sampai saat ini tidak saja memperkecil jumlah korban (sekitar 40.000), bahkan cenderung menyangkal bahwa pembantaian itu terjadi.
\

\
Chang tidak saja mengkritik Kaisar Hirohito yang puas dan menyambut jatuhnya Nanking oleh tentara Jepang tanpa mempedulikan korban. Tapi, Chang juga mengecam baik pemerintah Tiongkok yang tidak pernah serius meminta pemerintah Jepang untuk meminta maaf dan memberikan ganti rugi kepada korban. Lebih lanjut Chang menganggap penyangkalan fakta pembantaian oleh pihak Jepang sebagai “pembantaian korban kedua.”
\

\
Berbeda dengan pemerintah Jerman, pemerintah Jepang tidak pernah secara formal menyatakan permintaan maaf dan mengakui atas kekejaman yang dilakukan di Nanjing pada tahun 1937. Buku pelajaran sejarahnya (textbook) juga berusaha untuk menutupi kekejaman atau memperkecil arti kejahatan perang tentaranya yang dilakukan pada perang dunia ke 2 pada umumnya dan pembantaian Nanjing khususnya.
\

\
Orang yang bertanggung jawab atas pembantaian Nanjing itu adalah Jenderal Iwane Matsui dan terutama Pangeran Asaka Yasuhiko, paman dari kaisar Jepang Hirohito sebagai komandan dan wakil komandan pasukan Jepang ketika merebut Nanjing pada bulan Desember 1937.
\

\
Pangeran Asaka adalah orang yang bertangung jawab mengeluarkan perintah langsung untuk membunuh semua tawanan di Nanjing. Sesudah Jepang dikalahkan, Jenderal Matsui dihukum gantung atas kejahatan perangnya, tetapi Pangeran Asaka diberikan amnesti oleh Jenderal Mac Arthur, pimpinan tentara Sekutu di Jepang, dan hal ini dilakukan mungkin karena Amerika ingin mengambil hati Jepang yang dibutuhkansebagai sekutu barunya dalam era perang dingin yang baru dimulai, atau kalau sekiranya yang menjadi korban adalah warga Amerika sendiri, mungkin Pangeran Asaka yang meninggal pada tahun 1981 akan diperlakukan seperti Jenderal Matsui juga (digantung).
\

\
Tetapi orang yang paling bertanggung jawab atas pembantaian tersebut adalah Hirohito sendiri, dialah yang mengeluarkan perintah untuk tidak mengakui status tawanan orang Tiongkok sebagai status tawanan perang yang dilindungi oleh hukum internasional, sehingga dapat diperlakukan sesukanya. (On 5 August 1937, Hirohito personally ratified his army’s proposition to remove the constraints of international law on the treatment of Chinese prisoners. This directive also advised staff officers to stop using the term “prisoner of war”. Wikipedia). Dan Hirohito juga dilindungi oleh Amerika, sehingga bebas dari semua tuduhan sebagai penjahat perang.
\

\
Pembunuhan massal terhadap warga sipil oleh tentara Jepang pada waktu perang dunia ke 2 bukan hanya terjadi Tiongkok saja, tetapi dilakukan juga di Indonesia seperti salah satunya di Mandor, Kalimantan Barat, hanya dalam skala yang lebih kecil dibandingkan dengan yang terjadi di Nanjing pada tahun 1937.

Where Am I?

You are currently browsing the sejarah category at aikonia.