Studio Keramik Eksperimental: Studio Tana

July 19th, 2010 § 0

Tempat yang kecil. Sebilah pintu bertuliskan Studio Tana dari besi terlihat dari salah satu jalan di pinggiran daerah Bintaro yang berisik. Pintu di sebelah warung serba ada itu, menjadi pembatas antara banyaknya pemikiran kreatif yang kontras dengan keadaan di luar. Ruang yang membesar ke belakang rapih dan bersih. Di tengah ruang terdapat tungku besar berselimut dinding metal yang ‘dingin’, kontras dengan kesegaran anggrek tanah merambat pada dinding tetangga, di sebelahnya.

project terbaru: situsehat.com

April 15th, 2010 § 0

Setelah hampir satu tahun lamanya dibangun, akhirnya lucu-lucuan terbaru si aikon muncul juga. Ia diberi nama situsehat. Maunya mengatakan: situ sehat, sini senang.. Ia mulai diaktifkan dan diuji coba, dan masih dalam versi beta sejak tanggal 3 Maret 2010 lalu.

Singkatnya.. situs di dunia maya ini, dimaksudkan untuk mendekatkan pasien dengan dokter. Bukan untuk menggantikan konsultasi secara tatap muka, yang memang harus dilakukan untuk pemeriksaan yang lebih akurat, namun lebih untuk mempermudah, mempercepat, mempermurah layanan kesehatan.

situsehat.com dapat diakses di mana saja, kapan saja sejauh terdapat koneksi internet. Bila dalam situasi mobile, pengguna dianjurkan untuk mengaksesnya melalui  Iphone (bukan blackberry, karena layar dan interfacenya akan berantakan) dan browser selain Microsoft Internet Explorer.

Dalam waktu dekat, diharapkan situs ini dapat diakses pula melalui SMS pada telepon genggam sederhana, demi menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Harapannya, dengan fasilitas konsultasi kesehatan online ini, kualitas kesehatan warga Indonesia akan menjadi lebih baik.

Sila kunjungi www.situsehat.com, coba, dan kritisi. Bila ada kekurangan, jangan segan untuk kometar di bawah ini, atau di blog situsehat. Andapun dapat selalu ter-update dengan ikuti twitter dan facebook-nya

Jakarta Kota Gagal!

January 14th, 2010 § 0

Tulisan Elisa di Koalisi Warga Kota Jakarta untuk 2030..

Kota bisa gagal dan sakit jika perencanaannya gagal.

Selama ini, banyak orang yang menimpakan kesalahan kota kepada IMPLEMENTASI atau PENERAPAN. Karenanya, untuk bisa berhasil, sebuah kota setidaknya harus memiliki proses perencanaan dan rencana yang baik pula.

Dan dalam rencana tersebut tercakup pula bagaimana cara penerapan terbaik. Itu berarti kota tersebut harus memiliki visi bersama yang berpangkal dari keinginan baik warganya.

Ini berarti juga kota tersebut harus memiliki strategi (berupa pilihan-pilihan pendekatan/metode dan rangkai tindakan), target yang jelas (baik secara kuantitas, kualitas, dan waktu) yang spesifik dan terukur. JAKARTA GAGAL (hingga saat ini) karena PERENCANAANNYA GAGAL memenuhi syarat-syarat minimun itu.

Apabila ditarik mundur, Perencanaan Kota Jakarta – yang produknya disebut Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI Jakarta, telah dimulai dari tahun 1965. Memang perencanaan tersebut memiliki jangka waktu masing, tetapi perencanaan dari tahun 1965 hingga yang terkini 2010 adalah produk perencanaan yang minim partisipasi publik, dan penuh ‘apa maunya pemerintah’. Lalu, setelah 45 tahun berlalu, pertanyaan besarnya adalah: Apakah model perencanaan ala tahun 1965 itu membuat Jakarta menjadi kota yang lebih baik?

Jika Tidak, berarti kita, warga dan pemda, harus merubah pandangan dan pola pikir. Rencana Tata Ruang bukan lagi eksklusif milik birokrat dan teknokrat, tapi Rencana Tata Ruang adalah milik Warga-Warga kota tersebut.

Mari bersama-sama kita berpartisipasi dalam proses perencanaan penataan ruang di wilayah DKI Jakarta.

Sampaikan uneg-uneg’ anda ke: jakarta2030@gmail.com, ‘add account facebook’ ini atau ikut ‘milis’ ini, ikut ambil bagian dalam petisi. dan jadilah warga yang bersuara!

(lebih lengkapnya ada di koalisi warga untuk Jakarta 2030)

2030_curve

mari menggambar di saung

December 21st, 2009 § 4

Sore itu tidak hujan.

Beberapa anak yang biasa bergelantungan di pohon jambu depan rumah, kali ini mereka mampir ke saung di belakang.

“Pak, boleh numpang baca-baca gak?” kata Fais dengan logat khas Sawangan, sambil menunjuk lemari di saung. Lemari tua dengan kaca pada tiga sisinya itu memang menampilkan deretan buku anak. Sudah lebih dari satu bulan yang lalu, lemari itu mulai dipenuhi buku-buku anak dan remaja; Baru dua minggu yang lalu, deretan buku itu terlihat terusik, tanda ada yang menggunakan. Senang sekali melihatnya.

Fais, anak pak Dayat, tetangga samping kiri, berumur kurang lebih sepuluh tahun. Ia memimpin teman-temannya memilih-milih buku. Tak lama, perhatiannya beralih ke tumpukan lembaran kertas kosong dengan kotak pinsil warna bergambar mobil balap, di rak paling bawah. Ia bertanya lagi. “Pak, ini untuk apa? Boleh digambarin, gak?”

Tentu!

pamer hasil karya..

pamer hasil karya..

Rumah dalam Gang: Update

November 4th, 2009 § 1

Minggu siang, 1 November 2009 lalu, Rumah dalam Gang (bukan nama sebenarnya) nya Dharmawan, kedatangan tamu. Pak Adit, Ibu Atiek bersama kedua putri mereka: Dini dan Ilma, menjadi relawan pertama bagi rumah yang dipersiapkan untuk  program-program bagi warga sekitar itu.

Setelah dibekali lodeh dan sambal sedap masakan tuan rumah, sambel teri, sambal sayur Ibu Atiek,  para relawan dadakan itu, mulai membantu  Dharmawan ‘boyongan’. Awalnya, mengangkut buku-buku untuk anak, remaja, dan dewasa dalam empat keranjang rotan besar dari rumah utama ke rumah dalam gang. Setelah buku-buku itu di-lap dengan kain kering, mereka kemudian disusun menurut ‘kelas’nya dalam tiga lemari kayu jati berpintu kaca yang telah disiapkan sebelumnya.

Tampak di ruang bawah, instalasi listrik sedang dikerjakan. Beberapa bola kaca putih dipersiapkan untuk menerangi ruang bawah. Untuk pendingin, kipas dengan bilah kayu jati akan dipasang di langit-langit.

Dalam waktu dekat program-program seperti ruang baca atau gambar, dongeng bagi anak, ‘nonton bareng’, dan program lainnya akan diselenggarakan di ruangan itu. Semoga kedatangan tamu hari itu, dapat makin mendekatkan pemilik Rumah dalam Gang pada mimpinya.

Kiper yang juga pengawal Soekarno

August 13th, 2009 § 0

Minggu lalu, aku dan Tony Siahaan berkesempatan ngobrol dengan Bapak Maulwi Saelan. Pak Saelan adalah penjaga gawang Tim Nasional PSSI di Olimpiade 1956.

DSC02393kecil

Pak Saelan bercerita mengenai bagaimana teman-teman satu tim kala itu, yang berbadan kecil-kecil, bila dibandingkan dengan tim lawan, Tim Nasional Rusia, bisa menahan serangan bertubi-tubi Tim Rusia dengan score 0-0.  Ia mengatakan:  sang pelatih, Tony Pogacnik, berhasil membuktikan bahwa kombinasi antara strategi permainan sepak bola modern dan energi yang dimiliki para pemain Indonesia dapat menelurkan hasil yang dahsyat.

Pak Saelan dengan semangat menceritakan bagaimana Tony melakukan pendekatan pada masing-masing pemain. Kesenangan, keperluan pemain, selalu diusahakan olehnya, ini demi kekompakan yang dibutuhkan oleh sebuah tim sepak bola.

Pak Saelan yang menjaga gawang sejak Asian Games pertama di New Delhi, India, tahun 1951, berhenti sebelum Asian Games ke-4, pada tahun 1962 di Jakarta, di mulai. Sebagai CPM, ia dialih tugaskan menjaga Presiden RI pertama, Ir.  Soekarno.

Stadion Taman Sari

August 2nd, 2009 § 0

Sabtu sore, keluar sedikit dari kemacetan Jalan Hayam Wuruk, Jakarta, aku mengunjungi sebuah stadion. Orang menyebutnya, Stadion Taman Sari, markas besar perkumpulan olah raga Tunas Jaya.

Stadion ini banyak menghasilkan pemain handal Indonesia, salah satunya adalah Tan Liong Hau, atau Latief Haris Tanoto.

spread-taman-sari

Stadion yang unik, karena dikelilingi oleh tembok berwarna-warni dan berjendela lengkap dengan jeruji.

Aku mencari Tan Liong Hauw, pemain sepak bola tahun 1950an yang kata seorang kenalan (Dedi di Kompas – thx!), masih sering berolah raga di stadion ini.

Setelah ditunjukkan oleh seorang penjual minuman ringan di samping tangga podium, aku berkenalan dengan Pak Wahyu Tanoto, anak sulung dari Pak Tan.  Pak Wahyu juga seorang pemain sepak bola nasional seperti bapaknya (dan juga adiknya, Budi Tanoto). Selain bekerja di sebuah perusahaan penyedia akses internet, kini Pak Wahyu melatih banyak pemuda bermain bola.

w1

w2

Walau tidak dapat terlalu lama ngobrol, sore itu, aku merasa senang..

Pakai baju Putih atau Hitam

May 11th, 2009 § 0

Sebelas tahun sudah dilewati. Tragedi Mei 1998 (hampir) dilupakan orang kebanyakan.

Peringati tragedi itu, agar tidak terulang. Pakailah baju putih atau hitam di tangal 13-14 Mei 2009.

Informasi lebih, dapat dilihat disini.

h-button.jpg

Infrastruktur melawan lupa

May 5th, 2009 § 0

Kemarin ini aku diundang ke sebuah pertemuan. Pertemuan itu digagas oleh ELSAM, sebuah lembaga swadaya masyarakat, dihadiri oleh banyak pekerja seni dan sosial. Tujuan pertemuan adalah merancang sebuah gerakan kebudayaan untuk mencapai konsesus bersama dalam mencapai kondisi yang lebih baik.

Tujuan yang mulia.

Aku mengajukan sesuatu yang ‘secara sederhana’ aku sebut fasilitas. Fasilitas bagi dan oleh banyak pihak, yang aku yakini dapat mendorong perbaikan dengan lebih efisien dan efektif. Fasilitas ini berbentuk infrastruktur virtual, dimana banyak pihak dapat  mengenali satu dengan yang lain, berkomunikasi, mempercayai, berkolaborasi, dan sebagainya.

Sebuah wadah dimana referensi berada berdampingan dengan berita aktual, lontaran pertanyaan, ataupun komentar pemberi dukungan. Ia menjadi sebuah tempat dimana ‘gerakan’ kemasyarakat dapat diusahakan secara aktif.

Aku membayangkan media itu berupa gabungan dari aplikasi facebook.com, kompas.com, dan politikana.com. Aplikasi web 2.0 akan terasa kental di sini, mendorong banyak pihak untuk ‘merapat’, berkontribusi secara terintegrasi. Ini diharapkan juga untuk dapat menekan jumlah ‘web-junk’ yang tersebar makin banyak di dunia maya.

Tak tahu apakah lontaran itu akan direalisir, namun setidaknya, dalam bayanganku, infrastruktur virtual itu bisa jadi jawaban bagi orang biasa mengusahakan kondisi negara yang lebih baik.

Sakitnya mengingat, susahnya melupakan..

April 20th, 2009 § 0

Foto ini diambil dari situs grafisosial.. (thx Adit!)

Melawan lupa menjadi keharusan..

jskk71.jpg

Where Am I?

You are currently browsing the project category at aikonia.