January 11th, 2013 § § permalink
Angin mempertemukanku dengan pak Joni, pengemudi Beos, Jakarta. Darinya aku dikenalkan dengan pak Ujang yang dibilang ‘penguasa’ bemo di kawasan Utara Jakarta itu. Ia bergelut dipermasalahan becak-motor meneruskan usaha ayahnya, pak Boho.
Pak Ujang anggap bemo yang masih bisa beroperasi saat ini di Jakarta adalah ‘hasil’ demo para pengemudi bemo di 2010. Waktu itu, beberapa bemo ‘tergaruk’ aparat, yang mengantungi Peraturan Daerah yang melarang bemo operasi di Jakarta. Hal ini memicu demo besar yang dilakukan oleh banyak pengemudi bemo dari berbagai wilayah kota. Mereka mendatangi Dinas Perhubungan untuk meminta bemo yang disita untuk dikembalikan, serta menuntut adanya ‘solusi’ bagi para pengemudi bemo di kemudian hari. Tidak berhasil menemui yang berwenang di kantor dinas itu, pendemo mendatangi balai kota, berharap dapat menemui Gubernur Fauzi Bowo. Mendapat dukungan dari Ibu Wanda Hamidah, anggota DPRD DKI Jakarta, hari itu diakhiri dengan adanya ‘kesepakatan abu-abu’. Pengemudi bemo ‘diperbolehkan’ beroperasi kembali, walau Peraturan Daerah tidak dicabut.
Menurut pak Ujang, nasib pengemudi bemo kini adalah ‘kebaikan’ yang diberikan oleh pemerintah kota. Entah sampai kapan.
Saat ini ada 45-an buah bemo yang ‘tercatat’ di kawasan Beos, Jakarta Kota. Konon 75% di antaranya aktif beroperasi. Setiap harinya, seorang pengemudi bemo perlu menyetor ke pemilik bemo sebesar Rp 75 – Rp 85 ribu. Untuk bensin dan minyak pelumas, kurang lebih menghabiskan Rp 80ribu. Di luar Rp 160 ribuan itu pengemudi bemo membawa pulang uang sebesar Rp 50 ribuan perhari. Menurutnya, jumlah ini adalah yang terbesar bila dibandingkan dengan penghasilan pengemudi bemo yang beroperasi di kawasan lain, seperti Manggarai, Karet, Bendungan Hilir, maupun Grogol. Besarnya pendapatan ini dikarenakan banyaknya penumpang yang perlu diangkut, dan juga karena adanya ‘penjagaan’ dan negosiasi dengan angkutan kota lain, yang memiliki trayek kurang lebih sama.
Melihat bemo yang parkir berjejer di samping Stasiun Jakarta Kota siang itu, terlihat para pengemudi memelihara kendaraannya dengan baik. Walau badan bemo ‘cecel-bocel’ dengan las sembarang dan dempul tebal, namun dari kejauhan, mereka tampil meriah dan bersih. Bagian belakang, tempat penumpang duduk berhadapan, dibuat lebih panjang dari aslinya yang 125 sentimeter, menjadi kurang lebih 175 sentimeter. Pemanjangan badan bemo ini untuk mengakomodir lebih banyaknya penumpang yang dapat diangkut dalam sekali jalan.
Sepertinya akan seru dan berguna bila bemo-bemo ini direvitalisasi, dijadikan ikon kota, seperti Jeepney di Filipina atau Tuktuk di Thailand. Dengan demikian, kemungkinan adanya kehidupan yang lebih baik akan muncul.
Angin.. angin.. berhembuslah ke arah perbaikan nasib para pengemudi bemo.
Share on Facebook
March 12th, 2012 § § permalink
Minggu sore di Galeri Foto Jurnalistik Antara
Menggambar
Suasana gaduh menjadi tenang saat 37 orang anak itu mulai menggambar. Mereka dibagi dalam 5 kelompok. Masing-masing kelompok mengelilingi sebuah kotak crayon, yang terdiri dari 36 warna itu. Sebelum anak-anak mulai menggambar, koordinator program revitalisasi Bemo, meminta anak-anak untuk menggambar bebas, namun dengan gambar Bemo di dalamnya. Awalnya beberapa anak menyatakan “Susaah gambar bemo..”. Namun mereka tetap mencobanya.
Satu per satu mereka menyelesaikan gambarnya. Banyak di antara mereka masih menggambar dengan pola dua gunung dan matahari. Hal ini merupakan fenomena menyedihkan yang umum terjadi dalam pelajaran seni rupa sekolah-sekolah negeri di Indonesia. Demikian banyak anak di Indonesia secara otomatis berpikir bahwa menggambar pemandangan adalah menggambar dua gunung dengan matahari di tengahnya. Menurut ahli kreativitas dan seni rupa anak, Profesor Primadi Tabrani, sistem pendidikan seni rupa yang salah di sekolah-sekolah dasar negeri menghilangkan potensi kreatif anak Indonesia. Termasuk saat-saat seorang guru memberi contoh di papan tulis dengan sebuah pemandangan dua gunung dan satu matahari. Atau sistem belajar yang melulu disiplin kaku dan hafalan, yang menganggap otak manusia seperti alat perekam belaka. Untungnya masih ada beberapa gambar anak yang terbebas dari jenis gambar ‘dua gunung dan satu matahari’ itu.
Ketika dimintai pertolongan, salah seorang peserta Sendi yang berumur 13 tahun tanpa banyak bicara langsung membantu panitia untuk menempel gambar di bawah tangga, di tengah galeri. Akhirnya tangga semen kelabu dilapis besi berkilat dingin itu berubah menjadi ‘ceria’. Anak-anak terlihat memandang dengan binar, binar kebanggaan.
Memberi Nama Bemo
Selesai menggambar mereka mendapat guntingan kertas tempel berwarna-warni untuk memberi nama pada Bemo yang akan berfungsi sebagai pengangkut internet keliling (Netling) dan www.patungan.net. Bemo itu semula diberi nama Dewi Lanjar. Huruf ‘L’ nya kemudian dihilangkan – menjadi Dewi Anjar – dengan harapan bemo itu menjadi tidak sering mogok. Pak Kinong, si pemilik lama, menganjurkan untuk ganti nama. Harapannya setelah ganti nama, bemo itu tak akan lagi punya masalah. Sticker-sticker yang sudah mereka tulisi dengan usulan nama, kemudian mereka tempel pada bagian muka Bemo. Walhasil, kaca depan bemo dipenuhi kertas tempel warna-warni berbentuk bintang, segitiga dan lingkaran.
Nama-nama hasil karangan ke-37 anak itu beragam, mulai dari nama-nama ‘kreatif’ seperti: Indonesia vs Malaysia, Embi, Barang Antik, Bawang, Toxa, Moto, Bomo, Jeyo, atau nama binatang seperti Bleki, Mongki, T-Rex, Atau nama orang: Toyip, Jongki, Tongki, Junior, James. Sebagian lagi memberi nama ‘besar’ seperti Bima Sakti, Indonesia, Jagur, Bintang Bercahaya, Bintang Bersinar, Cahaya Matahari, Dewi Sri, Dewi Langit, Jaya Putra, Jaya Putri, Kusuma Cahaya, Dwi Kusma, Sinar Cahaya. Ada juga dengan kata “Bemo” seperti: Dewa Bemo, Bemo Cinta, Bemo Ajaib, Bemo yang bersinar di Jalan. Rencananya panitia akan memilih salah-satu dari usulan nama-nama itu untuk menjadi nama baru dari Bemo.
Setelah bersama-sama membersihkan galeri, rombongan anak-anak, ibu, dan pengemudi Bemo itu pulang. Keempat Bemo bersuara khas itu meninggalkan Galeri Antara, dimana karya-karya gambar mereka terpajang. Kegiatan singkat dan sederhana ini memang sekedar ‘piknik’ kecil ke sebuah pameran di bangunan tua. Semoga saja kegembiraan sore itu dapat memberi kesan dan manfaat bagi ke-37 anak Karet Bivak itu.
Share on Facebook
March 8th, 2012 § § permalink
Jumlahnya 37 orang anak, dengan usia yang beragam. Sendy dan Riski berusia 13 tahun, sementara ada juga yang masih kecil – mungkin 4 tahun – seusia TK. Minggu 4 Maret 2012 lalu, mereka ‘menyerbu’ Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) naik Bemo bersama beberapa orang ibu, dan empat pengemudi Bemo. Anak-anak itu mungkin adalah anak, cucu, keponakan, atau tetangga dari pengemudi Bemo. Rombongan ini adalah warga daerah Karet-Bivak, di samping Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Kecamatan Tanah Abang. Pemimpin iring-iringan Bemo ini adalah pak Kinong, yang akrab disapa anak-anak itu sebagai Ayah Kinong. Siang itu, di Galeri dimana berlangsung Pameran foto dan grafis PANC?SILA, langsung berubah ceria dan hangat dengan celoteh anak-anak.
Nonton dan Menggambar Bersama
Kehadiran mereka tak lepas dari keberadaan sebuah Bemo yang dipamerkan di Galeri tersebut untuk memeriahkan pameran fotografis Panc?sila. Bemo yang konon akan digusur merupakan cermin dari tersingkirnya masyarakat miskin kota yang pasrah. Bemo itu memang berasal, dibeli dan dibenahi, di daerah Karet Bivak situ. Di kaca depan bemo tersebut tertulis nama: Dewi Anjar, panggilan sayang Bemo itu. Di samping bemo tertera sticker: Hivos, Grafisosial, Berbeda Merdeka 100%, dan Aikon. Organisasi yang disebut terakhir adalah perintis dari proyek ini. Sedangkan di moncong bemo tertera gambar tempel patungan.net. Bemo ini merupakan bagian dari Program Revitalisasi Bemo, yang melingkupi percobaan aplikasi Internet Keliling (Netling) dan media penyebaran informasi situs patungan.net.
Begitu datang anak-anak itu langsung duduk di tangga Galeri Antara, menghadap Dewi Anjar. Di dekatnya terpasang sebuah laptop dan proyector LCD, siap memutar film. Belum film selesai, sebagian anak-anak tersebut mulai gelisah, mereka berdiri, dan berlarian di dan sebagian lagi ke luar Galeri. Karena itu acara langsung dilanjutkan dengan menggambar bersama. Nama tiap anak dipanggil untuk kemudian dikelompokkan dalam lima kelompok, sesuai jumlah alat gambarnya. Asiklah mereka menggambar bebas – dengan syarat ada gambar Bemo di dalam gambar mereka itu.
Diskusi Nasib Bemo
Ketika anak-anak itu sibuk menggambar, para orang tua diajak ngobrol santai dengan Marco Kusumawijaya peneliti soal kota, arsitek, serta pendiri sekaligus Direktur Rujak.org – sebuah organisasi not-for-profit yang meneliti dan mendorong perbaikan kota Jakarta.
Diskusi berlangsung santai. Kinong berserta ibu-ibu warga Karet bertukar pengamatan dengan Marco, Nina, dan pengunjung lain. Mereka setuju, bahwa bemo merupakan kendaraan yang meng-akrab-kan penggunanya. Nina, salah seorang pengunjung memilih bemo sebagai alat transportasi pulang ke tempat tinggalnya di daerah Tanah Abang di malam hari. Sama dengan seorang ibu pengunjung lain, menganggap bemo lebih nyaman, aman, tidak berisiko pemerkosaan, seperti yang terjadi bekalangan ini. Pengemudi bemo, biasanya sudah lama dikenal, karena jumlahnya yang tidak terlalu banyak, dan mudah diketahui tempat tinggalnya.
Penutup
Setelah selesai, anak-anak itu menyerahkan gambar mereka pada panitia, yang kemudian menempelkan mereka di pinggiran tangga galeri, yang selama ini dibiarkan kosong. Mungkin ini baru pertama kalinya tangga itu pakai untuk menggantung karya. Mungkin ini kali pertama pula anak-anak berpameran di Galeri Foto Jurnalistik Antara yang kondang itu. Anak-anak itu terlihat senang dan puas, ketika memandangi karya mereka dipamerkan. Waktu terasa berlangsung cepat, pukul 14.00 mereka tiba, pukul 17.00 mereka kembali menaiki keempat Bemo untuk pulang. Walau berlangsung singkat, semoga ini jadi pengalaman yang bermanfaat bagi anak-anak Karet Bivak, dan juga bagi upaya pelestarian Bemo.
Arief Adityawan S.
Enrico Halim
Share on Facebook
November 20th, 2011 § § permalink
Sore itu agak mendung.. semoga proyek lucu-lucuan yang sudah diimpikan sejak lama ini, akan bergulir lancar..
Adalah Mang Asep yang menunjukan jalan ke tempat Pak Kinong, pemilik empat bemo di daerah Pejompongan. Rumahnya di belakang lapangan kosong di Karet Pasar Baru Barat II, Jakarta Pusat.
Share on Facebook
October 1st, 2011 § § permalink
Sebuah program ‘Desain untuk Difabel’ dipersiapkan.
Program ini dimaksudkan untuk mendorong isu aksesibilitas difabel ke permukaan. Harapannya: kita semakin mengetahui, bahwa ada teman-teman yang walau memiliki perbedaan fisik, namun tidak terhambat kemampuannya untuk menjadi manusia yang berkontribusi.

Share on Facebook
April 27th, 2011 § § permalink
Boneka Mei mengingatkan kita pada Tragedi Mei 1998.
Kita dapat berpartisipasi, dengan menjahit kain bekas menjadi boneka, dan kirimkan. Ini dapat menunjukkan pada pemerintah negara ini dan lingkungan sekitar, bahwa kita tidak lupa!

Share on Facebook
October 27th, 2010 § § permalink
Mestinya: Ya.
Desain dapat membantu meringankan beban yang ada.

Tentu, poster penggalangan simpati dan kontribusi dibutuhkan, namun perlu dipikirkan juga materi yang dirancang dengan baik di lokasi bencana.
Berikut ini beberapa aplikasi..
Ada beberapa aplikasi juga di situ, sini.. dan di sana. Sedikit tip di sini.
Dari sini, dan tentunya dengan mengunjungi lokasi bencana, kita perlu pikirkan apa yang dibutuhkan..
Share on Facebook
March 21st, 2010 § § permalink

Apa itu? Itu lho .. salah satu cara wakil rakyat daerah (DPRD) mendengar suara warganya. Yup! akupun baru tahu!
Salah satu cara DPRD itu berupa sidang Badan Legislasi Daerah. Hal ini ternyata sudah dijadikan undang-undang sejak tahun 2004. Sedikit mengenai badan itu dalam bahasa awam, bisa dibaca di sini.
Nah, sekarang waktunya warga kota bersuara. Kalau bosan hanya ‘complain’ soal kemacetan, banjir, pungli, dll di kota kita ini, datanglah ke sidang mereka berikutnya Hari Kamis, 25 Maret 2010 mendatang. Bersuaralah dan ikut tentukan mau dijadikan kota ini nantinya..
Share on Facebook
February 9th, 2010 § § permalink
Koalisi Warga untuk Jakarta 2030 mengundang seluruh warga untuk turut hadir dalam Serial Diskusi 11 Jakarta KOMPLEKS! Bagaimana Memahami Persoalan Jakarta yang kompleks secara utuh.
Hari/Tanggal: Kamis/11 Februari 2010
Jam: 14.00 – 17.00 WIB
Tempat: Humanitarian Forum Indonesia Meeting Room
Lt. 2, Gedung Pusat Dakwah PP Muhammadiyah
Jl. Menteng Raya 62, Jakarta
(untuk informasi, hubungi jakarta2030@gmail.com)
Sila kunjungi situs kami: koalisijakarta2030.wordpress.com untuk mengetahui perkembangan kami dan diskusi-diskusi terdahulu.
Pengantar Diskusi:
Kesalahan manusiawi ketika manusia memiliki kecenderungan berpikir linear dan keterbatasan dalam memahami persoalan yang komplek. Sepertinya itu pula yang terjadi dalam perumusan RTRW 2030 oleh Bappeda, sebuah penyederhanaan (kalau bukan pengabaian) terhadap kompleksitas persoalan, sebagaimana diungkapkan Hendro Sangkoyo dalam Diskusi 9: Ekonomi kota silam.
Padahal kemampuan memahami persoalan secara utuh merupakan prasyarat dalam merancang strategi yang efektif. Jika hanya mengacu pada kejadian (gejala), penanganan persoalan pun cenderung bersifat reaktif dan tidak memecahkan akar persoalannya. Tanpa kemampuan memahami persoalan secara utuh hingga menyentuh struktur persoalan maka penerapan kebijakan tak ubahnya menjadi ajang uji-coba dan sebagai akibatnya resiko kegagalan, yang seringkali tak kecil nilainya, harus ditanggung oleh warga.
Salah satu contoh nyata kebijakan yang hanya mengatasi gejala adalah mengatasi kemacetan dengan membangun jalan. Kemacetan hanya berkurang sesaat setelah jalan baru selesai dibangun, karena kondisi bebas macet ini kemudian justru menjadi daya tarik untuk menggunakan mobil/motor pribadi. Sementara meningkatnya kebutuhan mobilitas penduduk, yang menjadi akar persoalannya tetap tidak tersentuh.
Oleh karena itu Serial Diskusi 11 akan mengusung tema “Bagaimana memahami persoalan Jakarta yang kompleks secara utuh?“ dengan narasumber Bapak Muhammad Tasrif. Tujuan diskusi ini adalah meningkatkan pemahaman peserta antara lain terkait dengan:
Bagaimana suatu perilaku muncul dari struktur sistem pada kebijakan yang dibuat&dilaksanakan.
Bagaimana sudut pandang berbeda dapat memperkaya pemahaman terhadap struktur persoalan.
Apa yang dimaksud dengan membuat perubahan yang bersifat struktural.
Bagaimana mengembangkan skenario dalam perencanaan
Bagaimana menentukan parameter pengendalian
Diharapkan pemahaman ini dapat membantu Koalisi Warga untuk Jakarta 2030 dalam meletakkan aspek sosial-ekonomi-budaya, permukiman, lingkungan dan infratruktur kota Jakarta dalam suatu kerangka tinjauan yang utuh; serta merumuskan usulan yang SMART untuk perbaikan RTRW 2030.
Muhammad Tasrif: menyelesaikan sarjana Teknik Elektro di ITB dan Master of Engineering dalam bidang Industrial Engineering and Management di Asian Institute of Technology. Gelar doktor diselesaikan di ITB dalam bidang Ilmu Teknik dengan disertasi tentang pemodelan system dynamics. Telah menulis artikel akademik di beberapa jurnal nasional dan internasional seperti Journal of Energy Policy dan Jurnal Studi Pembangunan. Juga telah memberi presentasi di konferensi internasional dalam bidang kebijakan energi, system dynamics, dan simulasi dan pemodelan.
Saat ini menjabat sebagai Ketua Program Magister Studi Pembangunan ITB. Aktif dalam komite nasional antara lain National Implementing Committee for Promotion of Renewable Energy, Energy Efficiency, and Greenhouse Gas Abatement dan Pengawas Independen Pelaksanaan Tarif Dasar Listrik.
Ingin tahu apa yang bisa warga lakukan?
Sila kirim email kepada kami: peranserta@gmail.com
Share on Facebook
February 7th, 2010 § § permalink
Jangan hanya menggerutu kalau macet, dan lain-lain..
Sila isi survey online ini, biar Jakarta lebih sip!

Share on Facebook