July 27th, 2010 §
July 27th, 2010 §
Tambal Ban vespa Rp 7.000,- + 25 menit.
- Ban yang kempes dilepaskan dari pemutarnya.
- Ban dalam dikeluarkan, dipisahkan dari ban luar.
- Ban dalam diisi angin, dicelup dalam ember berisi air, sambil diperhatikan bagian mana yang meniupkan balon-balon udara.
- Tusuk lubang yang ditemukan berlubang dengan korek api kayu sebagai penanda.
- Cabut batang korek api tadi, dan gosok bagian berlubang dengan sikat besi halus.
- Letakkan ban dalam itu di samping, sebentar, untuk menyalakan kompor penjepit.
- Ambil ban dalam tadi, oleskan lem karet dan tumpuk dengan sepotong karet (bekas ban dalam lain).
- Sampil menjepitnya dengan jari, letakkan bagian ban dalam yang telah diberi lem dan sepotong karet itu ke bawah penjepit. Hati-hati, penjepit (mestinya) panas
- Putar tuas beberapa kali, sehingga menjepit ban dalam, lem, dan potongan karet.
- Sambil menunggu, sekarang giliran ban luar.
- Periksa apakah (masih) terdapat obyek tajam diam menusuk.
- Bila ada, cungkil, cabut dan buang ke tempat sampah yang tersedia.
- Beberapa menit menunggu, lepaskan ban dalam dari jepitan panas tadi.
- Kemudian lakukan proses kebalikan tahapan tadi.
- Tak lama, ban kempes tadi siap untuk berputar kembali.
-
-
jepit agar menempel
-
-
pembolong dipaksa keluar
Share on Facebook
July 23rd, 2010 §
OHAJE
Ngobrol-ngobrol santai, berbagi (sharing) hasil jalan-jalan

Senin, 26 Juli 2010
Pukul 09.30
Ruang Seminar
Gedung K, lantai 4
Fakultas Serirupa dan Desain
Universitas Tarumanagara
Pembuka: Kepala Studio Seni Rupa: Juli Asmanto
Jalan-jalan ke Juwana dan Lasem: dari bangunan tua hingga sejarah studio foto di Juwana: Arief Adityawan S. + Enrico Halim + Leonard Pratama
Pemberdayaan masyarakat dan Batik Juwana: Ester Rini Pratsnawati
Batik Lasem dan keunikannya: Enny Raraswati
Penanggap: “Meneliti itu Mudah”: Noeratri Andanwerti
Share on Facebook
July 19th, 2010 §
July 19th, 2010 §
Rumah di persimpangan jalan utama di Lasem ini menarik.
Arsitekturnya campur aduk bukan gaya cina, sedikit terlihat gaya kolonial. Ada bagian yang meninggi di depan, seperti menara pengintai. Tangga untuk ke ‘menara’ sepertinya bukan ‘asli’, karena sudut anak tangganya tidak nyaman.
Tiga kamar di dalamnya terpisah dari kamar mandi yang terletak di halaman belakang.
Rumah ‘aneh’ ini ditinggalkan oleh pemiliknya sejak lama, dan untuk sementara dijadikan tempat tinggal pegawai toko telpon genggam yang tak jauh dari lokasi.
Share on Facebook
July 19th, 2010 §
July 19th, 2010 §
July 19th, 2010 §
Menjauh kurang lebih 50 meter dari jalan raya Pantura, bekas stasiun kereta Juana menjadi lapangan badminton tertutup bagi warga.
Tiang-tiang dan balok-balok kayu jati besar menopang atap seng tebal dari abad 20.
Share on Facebook
July 19th, 2010 §
July 19th, 2010 §
Juwana merupakan kota tua yang belum populer.
Konon, dulu banyak pengrajin kuningan dan batik di sini. Sekarang ‘terkenal’ dengan produksi kecap gentong, terasi, dan petis pekatnya.
Aku jalan-jalan santai menikmati banyak bangunan tua. Terutama ragam pintu-pintunya.
Share on Facebook