OHAJE: Obrolan Hasil Jalan-jalan

July 23rd, 2010 § 0

OHAJE
Ngobrol-ngobrol santai, berbagi (sharing) hasil jalan-jalan


Senin, 26 Juli 2010
Pukul 09.30
Ruang Seminar
Gedung K, lantai 4
Fakultas Serirupa dan Desain
Universitas Tarumanagara

Pembuka: Kepala Studio Seni Rupa: Juli Asmanto
Jalan-jalan ke Juwana dan Lasem: dari bangunan tua hingga sejarah studio foto di Juwana: Arief Adityawan S. + Enrico Halim + Leonard Pratama
Pemberdayaan masyarakat dan Batik Juwana: Ester Rini Pratsnawati
Batik Lasem dan keunikannya: Enny Raraswati
Penanggap: “Meneliti itu Mudah”: Noeratri Andanwerti

Pentas Teater Durna Rumangsa

July 22nd, 2010 § 0

Dipentaskan oleh Teater Tetas di Gedung Kesenian Jakarta.

Orang boleh berbuat salah. Tapi sekecil apa pun kesalahan yang dilakukan seorang guru bangsa, akan terlalu besar akibatnya.

Bahkan Durna, guru bangsa yang kontroversial itu, tercenung melihat kondisi bangsa yang semakin carut-marut. Menyaksikan tata nilai semakin tumpang-tindih, manusia lebih menuruti naluri daripada nurani, ia bertanya-tanya, kalau-kalau ada perannya yang ikut melantarkan situasi tersebut. Ia pun mencoba mawas diri, merenungkan kembali perjalananan hidupnya.

Jika seorang Durna pun berani melakukan introspeksi atas perbuatannya, apakah para pemuka masyarakat, petinggi negara, cendekiawan, ulama dan aulia — serta mereka yang dalam kapasitas masing-masing bisa disebut sebagai guru bangsa — berani melakukan tindakan yang sama? Pertanyaan ini menjadi penting ketika suatu bangsa berniat untuk memperbaiki negerinya.

Pentas “Durna Rumangsa”, yang ditulis dan disutradarai oleh Ags. Arya Dipayana, merupakan ajakan untuk mawas diri dalam upaya memperbaiki kualitas manusia maupun bangsa. Dikemas dalam nuansa yang segar dan menghibur, naskah ini akan dimainkan oleh  Teater Tetas di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat pada hari Rabu dan Kamis, 4-5 Agustus 2010, jam 20.00.

“Durna Rumangsa” akan dipentaskan dalam format semi kolosal dengan durasi 90 menit, didukung pemain-pemain Teater Tetas seperti Didi Hasyim, Meyke Vierna, Hari Prasetyo, Harris Syaus, dan banyak lagi. Bertindak sebagai Penata Musik adalah Nanang Hape, dengan mengusung musik kontemporer berbasis karawitan Jawa, didukung oleh Bianglala Voices. Tata Gerak dikerjakan oleh Wiwiek HW, dengan Tata Cahaya oleh Wardono.

Harga tanda masuk untuk pertunjukan ini adalah Rp. 50.000 dan Rp. 40.000 (balkon). Pemesanan tiket dapat dilakukan dengan menghubungi Gedung Kesenian Jakarta (Mulyono) di (021) 3808283, 3441892  atau Teater Tetas (Keke) di 0818858758.

Pentjoeri Hati

July 20th, 2010 § 0

Karya salah satu penulis Sastra Melayu Tionghoa kembali dipentaskan oleh Teater Bejana di Gedung Kesenian Jakarta.

Pementasan karya Kwee Tek Hoay

Sandiwara satu babak. Adaptasi dari naskah ”Pentjoeri –Tooneelstuk dalem Satoe Bagian” Karya Kwee Tek Hoay (1936) oleh Daniel H. Jacob dan Veronica B. Vonny.
Menceritakan mengenai percintaan dua insan bernama Peter Yauw dan Lientje Tjee dengan latar belakang sosial yang berbeda. Perjalanan percintaan mereka tidak berjalan mulus karena tidak mendapat restu dari orang tua pihak laki-laki.

Sutradara/Director: Daniel H. Jacob
Artistik: Harry Oetomo

Sabtu, 7 Agustus 2010 – 19.30 WIB
Minggu, 8 Agustus 2010 – 14.30 WIB dan 19.30 WIB

Auditorium dan Balkon: Rp 50.000,-
VIP: Rp 250.000,-

Informasi
Teater Bejana. Daniel: 08128101517
Gedung Kesenian Jakarta
Jl. Gedung Kesenian Jakarta No. 1 Jakarta 10710
T. 021- 380 8283, 344 1892 F. 021- 381 0924
Roelly: 380 8283, 344 1892
Putu Dewiyanti Delim: 08128245167
www.gedungkesenianjakarta.com/ gkj@pacific.net.id

Festival Penulisan Esai untuk Pelajar SMA+Mahasiswa

July 1st, 2010 § 2

Kekerasan, Perdamaian, dan Keindonesiaan

Tenggat waktu pengumpulan: 12 Juni – 2 Agustus 2010

Kompetisi esai ini mengundang seluruh siswa/i Sekolah Menengah Atas (SMA) dan mahasiswa/i S1 dari wilayah Jabodetabek sebagai peserta untuk menguraikan kekerasan dan pelanggaran HAM masa lalu di Indonesia serta memberikan pendapat atau saran agar peristiwa tersebut tidak berulang di masa depan.

Tema: Kekerasan, Perdamaian, dan Keindonesiaan

Deskripsi Tema: Peserta menjabarkan dalam bentuk esai mengenai kekerasan atau pelanggaran HAM berskala masif yang terjadi di Indonesia selama kurun waktu tahun 1965 hingga 2000 seperti Tragedi 1965, Penembakan Misterius (1983), Peristiwa Tanjung Priuk (1984), Talangsari (1989), Peristiwa Trisakti, Semanggi I & II (1998), Tragedi Mei 1998 dll. Argumen harus jelas dengan menjabarkan beberapa pertanyaan kunci yang menjadi panduan penulisan esai, yaitu:

1. Apa yang anda ketahui tentang peristiwa tersebut?

2. Menurut pendapat anda kenapa peristiwa tersebut bisa terjadi?

3. Apa tanggapan anda soal peristiwa tersebut?

4. Berikan saran anda agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali?

Rangkaian waktu Festival Esai 2010:

2 Agustus   : Deadline penerimaan esai

14 Agustus : Pengumuman seleksi I: 32 penulis esai terbaik dari tiap kategori (pelajar SMA dan mahasiswa) akan dihubungi melalui telepon, email, pos untuk mengikuti

workshop penulisan esai.

19 – 22 Agustus : Workshop penulisan esai

26 Agustus         : Pengumuman seleksi II: 14 esai terbaik dari tiap kategori

26 Agustus – 9 September     : Masa konsultasi dengan mentor dan perbaikan esai 14 penulis terbaik dari tiap kategori

27 September   : Pengumuman 3 finalis terbaik dari tiap kategori (pelajar SMA dan mahasiswa)

4 Oktober          : Pengumuman juara utama (I, II & III) dari tiap kategori dalam acara Malam Penganugerahan Award

Syarat Peserta

1. Peserta terdiri dari 2 (dua) kategori, yaitu:

a. Siswa/i Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri atau swasta kelas 1-2 di wilayah Jabodetabek

b. Mahasiswa/i aktif S1 di salah satu perguruan tinggi negeri atau swasta di wilayah Jabodetabek dari seluruh jurusan dan disiplin ilmu;

2. Lomba ini merupakan lomba perorangan/individu;

3. Judul Esai bebas (Peserta bebas menentukan judul, tetapi masih dalam batasan tema);

4. Format esai :

* Kertas ukuran A4

* Essay minimal 5 halaman

* Margin 4-3-3-3 (atas-kanan-kiri-bawah)

* Times New Roman 12

* Spasi 2

5. Peserta mengirim berkas sebagai berikut :

* 2 rangkap hasil karya esai dalam bentuk hardcopy via pos dan dalam bentuk softcopy via email

* Fotocopy KTM untuk mahasiswa;

* Fotocopy Kartu Pelajar atau Kartu Keluarga untuk siswa SMA

* Pas foto 3×4, 2 lembar

* Fotocopy bukti pembayaran terakhir

6. Belum pernah dipublikasikan (orisinil);

7. Lomba tertutup untuk Panitia Festival Penulisan Esai.

8. Hadiah

Kategori SMA:

Juara 1 Netbook SONY Vaio VPCW21EAG (+ Win7 Starter)

Juara 2 Netbook HP Mini 210-1002TU (+Win XP Home)

Juara 3 Netbook BYON Chameleon N-610XP-GA (+ Win XP Home)

Kategori Mahasiswa:

Juara 1 Netbook SONY Vaio VPCW217AG (+ Win7 Starter)

Juara 2 Netbook TOSHIBA NB300-A102G (3G) (+Win7 Starter)

Juara 3 Netbook Netbook HP Mini 210-1002TU (+Win XP Home)

Para pemenang juga akan mendapatkan kesempatan magang di Komnas HAM ataupun lembaga-lembaga anggota jaringan Kelompok Kerja Pengungkapan

Kebenaran (KKPK) yang ada di Jakarta.

Materi-materi terkait penulisan esai dan informasi lebih lengkap bisa dilihat dalam blog:
<http://esaimelawanlupa.wordpress.com>

Email:
panitia.esai@gmail.com & panitia.esai@yahoo.com

Facebook:
Festival Esai “Kekerasan, Perdamaian dan Keindonesiaan”

Kepanitiaan Bersama:

Sekretariat: Jl. Madrasah IX No. 9A, Cawang Kavling, Jakarta Timur 13340, INDONESIA

Tel./Fax: (021) 8590 4403, Tel: 300-72278


Zico Mulia

Secretary, PEC (People’s Empowerment Consortium)

Assistant Secretary, KKPK (Kelompok Kerja Pengungkapan Kebenaran / Working Group for Truth Recovery)

Bulan Mei 2010

May 1st, 2010 § 2

Ajakan dari Jaringan Suara Keluarga Korban..
Rekan-rekan seperjuangan yang kami hormati,
Kami percaya kepada Rekan-rekan pasti ingat bahwa tg. 1 Mei adalah hari kemenangan kaum buruh sedunia. Kemudian, tg. 2 Mei adalah hari Pendidikan Nasional, dan tg. 20 Mei adalah hari Kebangkitan Nasional.
Melalui hari-hari istimewa itu kita dipicu untuk semakin meningkatkan diri dari waktu ke waktu, baik itu kesejahteraan buruh, kecerdasan bangsa, dan juga makna hidup dalam negara merdeka. Namun kemerdekaan itu telah dinodai oleh penguasa Orde Baru yang haus akan kekuasaan, dimana untuk melanggengkan kekuasaannya telah melakukan tindakan-tindakan yang tidak manusiawi: tg. 8  Mei ’88 terjadi pembunuhan terhadap seorang aktivis buruh bernama Marsinah, tg. 12 Mei ’98 terjadi penembakan empat mahasiswa Trisakti, dan tg. 13-15 Mei ’98 terjadi tragedi berdarah di Jakarta, Lampung, Palembang, Medan, Solo, dan Surabaya.
Sehubungan dengan itu, kami mengundang Rekan-rekan seperjuangan untuk bergabung melakukan aksi damai untuk melawan lupa atas berbagai peristiwa masa lalu itu, pada:
hari                      : Kamis
tanggal                 : 29 April, 6 Mei, 20 Mei, dan 27 Mei 2010
waktu                   : jam 16.00 – 17.00 (tepat)
perlengkapan aksi : foto, payung hitam, spanduk, selebaran berupa surat kepada Presiden, dll.
keterangan           : aksi damai diakhiri dengan refleksi dan doa.
Kami akan merasa senang apabila Rekan-rekan menjadikan ruang aksi damai tersebut untuk sarana menyampaikan suara hati kita kepada publik, sehubungan dengan banyak permasalahan hak asasi rakyat yang belum mendapatkan perhatian dari pemerintah.
Atas kehadiran dan peran serta Rekan-rekan semua, kami mengucapkan terima kasih.
Jakarta, 27 April 2010
“Jangan Diam”
a.n. JSKK,
Sumarsih

30 Tahun Hasta Mitra

April 17th, 2010 § 0

Undangan mengenang sebuah perlawanan, merayakan perjuangan “Hasta Mitra: Mencerdaskan Bangsa lewat Buku” Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) dan Jaringan Videomaker Independen (JAVIN) mengundang rekan-rekan untuk hadir dalam peringatan 30 Tahun berdirinya Hasta Mitra pada;

Selasa, 20 April 2010, pukul 17.00 hingga selesai
Di: Rumah Dolorosa Sinaga, Jl. Pinang Ranti No. 40 RT 015/RW 01, Pinang Ranti, Pondok Gede, Jakarta Timur (perempatan Garuda, seberang Tamini Square).
Acara: Pemutaran film dokumenter tentang Hasta Mitra oleh JAVIN
Perbincangan: Jejak langkah Hasta Mitra dalam mencerdaskan bangsa Bersama Wilson, Hilmar Farid, dan keluarga pendiri Hasta Mitra Pameran sejarah pelarangan buku dan buku-buku produksi Hasta Mitra.

Sekilas Hasta Mitra

April tiga puluh tahun silam, tepat ketika rezim Orde Baru tengah mencapai puncak kejayaannya, tiga orang eks tapol (tahanan politik): Joesoef Isak, Hasjim Rachman dan Pramoedya Ananta Toer, sepakat mendirikan perusahaan penerbitan Hasta Mitra (Tangan Sahabat). Menolak menjadi hantu berkeliaran, mereka maju secara terang-terangan, mengabaikan teror dan pembatasan terhadap gerak eks tapol untuk menyebarkan buah pikiran mereka secara meluas. Sebagai langkah awal, lewat karya-karya Pramoedya Ananta Toer, yang kemudian dikenal dengan ‘Tetralogi Buru’, Hasta Mitra menyampaikan kisah yang berbeda dari versi sejarah resmi tentang perjalanan bangsa ini kepada generasi muda yang sedang resah akan nasib negerinya.

Gebrakan Hasta Mitra ternyata bukan saja menggegerkan dunia sastra Indonesia dan dunia, tetapi juga mengusik kenyamanan penguasa Orde Baru. Selang setahun setelah Bumi Manusia terbit dan memecahkan rekor penjualan buku terlaris — 5.000 eksemplar dalam 12 hari — pemerintah melalui Kejaksaan Agung melarang peredaran novel ini karena dianggap menyebarkan ajaran Komunisme. Pelarangan diikuti dengan pemanggilan dan interogasi terhadap para pengelola Hasta Mitra, serta penyitaan buku. Tindakan represif pemerintah tidak membuat trio Joesoef, Hasjim dan Pramoedya jera. Mereka melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing: Pramoedya menulis, Joesoef menyunting, dan Hasjim mencari modal usaha. Buku demi buku diterbitkan dan dilarang, namun buku-buku Hasta Mitra tetap beredar secara gerilya, terutama di kalangan aktivis pro-demokrasi, intelektual, dan pekerja kebudayaan. Penyitaan dan kesulitan memperoleh hasil penjualan gerilya membuat Hasta Mitra menanggung rugi, tapi keberanian dan keuletan Hasjim Rahman dan Joesoef Isak dalam mengelola sedikit modal dan mengolah lusinan naskah sudah membuat Hasta Mitra bertahan sebagai ‘penerbit buku bermutu’ sampai akhir hayat para pendirinya.

Sepanjang 1980-1998 Hasta Mitra adalah badan penerbitan yang bukunya paling banyak dilarang Kejaksaan Agung. Pemerintah seakan melihat bagaimana terbitan Hasta Mitra sudah menjadi inspirasi dan sumber pengetahuan baru bagi para aktivis gerakan pro demokrasi. Di masa itu membaca buku-buku Hasta Mitra adalah wajib bagi mereka yang peduli pada nasib bangsa dan negeri ini. Penangkapan, pengadilan dan penghukuman para pemuda yang mendiskusikan dan mengedarkan karya-karya Pramoedya Ananta Toer terbitan Hasta Mitra semakin menegaskan betapa kerdilnya rezim Orde Baru di hadapan gagasan pembebasan pikiran. Joesoef Isak, Hasjim Rachman dan Pramoedya Ananta Toer telah tiada. Tapi, jerih payah mereka tetap hidup, dalam buku-buku yang masih beredar, sebagai simbol perlawanan terhadap rezim anti-kebebasan berpikir dan berpendapat.

njalanya tak terpadamkan hingga kini nanti dan kapanpun njalanya panas menempa badja kemerdekaan badja kehidupan ketika kita tidak lagi bertanja pilih njala atau pilih badjanya? dan kita merebut kedua-duanja” Agam Wispi, “Surabaja” (1965)

Undangan: Judicial Review

April 13th, 2010 § 0

visual: Arief Adityawan

Hari/Tanggal      : Kamis, 15 April 2010
Waktu                : 15.00 WIB
Tempat              : Ruang Sidang Panel Lt. 4 Gedung Mahkamah Konstitusi,
Jl. Medan Merdeka Barat No. 7

Permohonan uji materi ini diajukan oleh Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI), penerbit buku Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto karya John Roosa, dan Rhoma Dwi Aria Yuliantri, salah satu penulis buku Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakyat 1950-1965. Kedua buku dilarang bersama dengan tiga buku lainnya oleh Kejaksaan Agung pada 22 Desember 2009.

Kami berharap persidangan ini bisa menjadi ruang terbuka bagi publik untuk membela hak berekspresi dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Kehadiran dan dukungan Bapak/Ibu serta rekan-rekan sekalian karena itu sangat kami harapkan.

Hormat kami,
Agung Ayu Ratih
Ketua Pengurus ISSI

Hilmar Farid
Ketua Dewan Pembina ISSI

Teater Tetas: Questioning Ekalaya

April 10th, 2010 § 0

Teater Tetas akan ikut ambil bagian dalam acara BIS Performing Arts Festival 2010, sebuah acara tahunan yang diselenggarakan oleh British International School Jakarta. Kali ini Teater Tetas akan menampilkan sebuah lakon bertajuk “Questioning Ekalaya”, sebuah naskah yang ditulis dan disutradarai oleh Ags. Arya Dipayana. Naskah tersebut merupakan penggalan dari epik Mahabharata, berisi kisah raja Paranggelung Ekalaya yang ditolak oleh Resi Durna ketika memohon untuk diterima sebagai muridnya.

Sebagai seseorang yang memiliki kesungguhan dalam upaya meningkatkan kualitas diri, Ekalaya kemudian membuat patung berujud Resi Durna. Ia menyepi di sebuah hutan untuk melatih diri. Setiap kali ia memulai latihan, dia lakukan terlebih dulu memohon restu kepada patung tersebut, seolah-olah seorang murid yang memohon petunjuk gurunya. Syahdan, Ekalaya kemudian memiliki kemampuan yang bahkan melampaui Arjuna, murid terkasih Resi Durna. Hal ini melahirkan kecemburuan Arjuna, yang dengan caranya kemudian berusaha untuk mengungguli Ekalaya.

“Questioning Ekalaya” bukan saja merupakan cerminan bahwa suatu kehendak untuk belajar sungguh-sungguh akan menemukan jalannya, melainkan juga suatu gambaran bagaimana seorang kesatria seperti Arjuna menyikapi pesaingnya, dan betapa seorang guru sebesar Resi Durna ternyata dapat juga berbuat alpa. Lakon berdurasi kurang-lebih 90 menit ini akan didukung oleh pemain-pemain Teater Tetas, yaitu Hari Prasetyo, Meyke Vierna, Ayat Muhammad, Artasya Sudirman, Dea Malyda, Yosep Viar, Adi Nugraha, Lukman Dardiri, Yova Tri Wahyuni dan Jerryanto.

Pentas “Questioning Ekalaya” akan dilaksanakan pada hari Jumat, 23 April 2010, jam 19.00, bertempat di Raffles Stage, World Theatre, British International School yang beralamat di Bintaro Jaya sektor 9, Jakarta Selatan. Pertunjukan itu berlaku untuk umum. Pemesanan tiket pertunjukan dapat dilakukan dengan menghubungi Stefanie di telepon [021] 745 1670 ext. 608 atau melalui e-mail: worldtheatre@bis.or.id

Halaman Museum menjadi Ramai!

March 15th, 2010 § 0

Hari Sabtu, 13 Maret 2010, halaman Museum Sejarah Jakarta menjadi makin ramai. Biasanya, kawasan kota tua Jakarta itu diramaikan oleh pengunjung yang bernostalgia dan berfoto ria. Kali ini, sebuah acara besar ‘menyempil’, sambil menyatakan: rebut ruang kreatif!

Adalah British Council dan Kamar Dagang Indonesia yang terlihat dan terdengar dengan jelas mempromosikan diri sebagai yang punya acara. Di tengah halaman, dua panggung besar dipersiapkan. Di pojok-pojok, terdapat lampu-lampu panggung berdaya besar menyorot sana sini. Musik dan kata-kata dari pembawa acara bergantian mengisi kebisingan di tengah kawasan yang biasanya senyap itu. Di sisi Utara, terpampang papan yang dilapis poster raksasa berjudulkan Jakarta Punya! Di sebelahnya terdapat ‘booth’ berisi barang-barang cendera mata yang diperjual belikan. Mulai dari t-shirt bertuliskan jakarta dengan tinta ‘bling2′ yang memantulkan cahaya, sampai jajaran boneka lucu buatan tangan terampil daerah bandung Selatan. Semua mendapat perhatian besar dari pengunjung.

Acara yang dinantikan dan sebagai puncak acara malam itu adalah acara pemutaran karya video seniman Inggris, D-Fuse, yang berkolaborasi dengan Sakti, Adi, dan beberapa teman lain dari Indonesia.

Banyak yang terpukau pada proyeksi raksasa dari gambar-gambar yang ditembakkan pada fasade gedung Museum Fatahillah. Ilustrasi musik modern yang berdetum-detum mengiringi pesta visual itu pun menggoda detak jantung pengunjung selama kurang lebih 10 menit. Benar-benar perhelatan yang di luar kebiasaan.

berdurasi sepuluh menit dari

Ikut dan Sebarkan: Petisi MENOLAK Pembongkaran Gedung Tua di Pangkal Pinang

February 23rd, 2010 § 0

Petisi Menolak Pembongkaran Gedung Bioskop Garuda dan Bioskop Surya

Dengan adanya rencana pembongkaran terhadap gedung bioskop Garuda dan Gedung
Surya yang merupakan bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Pangkal
Pinang pada tangga 24 Februari 2010, tanpa didahului oleh sebuah kajian yang
tepat, maka kami menyampaikan petisi ini.

Gedung Bioskop Garuda (dibangun pada tahun 1919) dan Gedung Biokop Surya
(dibangun pada tahun 1924, dahulu bernama Aurora) yang berlanggam art-deco,
merupakan tonggak sejarah perjalan perfilman di Indonesia. Di dalam buku
karangan HM Johan Tjasmadi, ISBN 978-979-15855-6-9 pada halaman 11 memuat
Bioskop Aurora dalam Daftar Bioskop di Wilayah Hindia Belanda tahun 1936.
Sebelumnya Pemerintah Kota Pangkal Pinang telah terlebih dahulu membongkar
Bioskop Banteng (dibangun pada tahun 1917) walau telah dilakukan kajian oleh
Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala dan Gedung Bioskop tersebut telah
dinyatakan memenuhi kriteria sebagai Bangunan Cagar Budaya.

Pembongkaran Gedung Bioskop Banteng, yang masuk di dalam daftar Bangunan
Cagar Budaya yang dilansir oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwasata,
disinyalir telah melanggar UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya,
dan Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan
Pariwisata No. 42 Tahun 2009/Nomor 40 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelestarian
Kebudayaan.

Foto citra Gedung Bioskop Aurora dapat dilihat di
sini<http://img20.imageshack.us/img20/9482/aurora1952.jpg>
Foto sampul Gedung Biokop Aurora dalam cover buku 100 tahun Bioskop di
Indonesia dapat dilihat di
sini<http://img29.imageshack.us/img29/2391/coverbuku100tahunbiosko.jpg>
Berkas Surat dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala halaman 1 dapat
di sini<http://img710.imageshack.us/img710/2994/suratdaridirpeninggalan.jpg>
Berkas Surat dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala halaman 2 dapat
di sini <http://img62.imageshack.us/img62/2994/suratdaridirpeninggalan.jpg>

Guna menghindari kemungkinan hilangnya Bangunan Cagar Budaya lainnya, kami
menyatakan PETISI MENOLAK PEMBONGKARAN GEDUNG BIOSKOP GARUDA DAN BIOSKOP
SURYA hingga dilakukan kajian oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala.

Kami yang menyatakan sikap :

01. Melly Suwandhani; Jakarta
02. Ahmad Djuhara, Ketua Kehormatan IAI Jakarta; Jakarta
03. Ariko Andikabina, Arsitek; Jakarta
04. M. Ridwan Kamil, Arsitek, Anggota Tim Penasehat Arsitektur Kota; Bandung
05. Her Pramtama, Ketua IAI Jakarta
06. Maulana HM, Arsitek, Jakarta
07. Ririn Soedarsono, Arsitek, Dosen Arsitektur ITB, TPAK; Bandung
08. Irwantoko, Arsitek & builder; Jakarta
09. Bambang Sumantri, Arsitek; Jakarta
10. Marco Kusumawijaya, editor www.rujak.org; lahir dan besar di kedua
bioskop itu.
11. Silvia Honsa, arsitek; Bekasi
12. Nurul Haq. Arsitek; Makassar
13. Romandi, Batam
14. Arya Arbieta, IAI,
15. Ary Hartanto, Arsitek, Jakarta
16. HAN AWAL IAI ,arsitek konservasi, Jakarta
17. M.Danisworo ( Prof. ITB,Ketua Pusat Studi Urban Desain, anggota Tim
Penasehat Arsitektur Kota DKI, anggota Tim Sidang Pmugaran DKI)
18. I G. Oka Sindhu Pribadi, Arsitek, Planner, Akademisi
19. Cut Mutia Hamzah Ismangun
20. Tecky Hendrarto
21. Gatot Surarjo, arsitek, Jakarta
22. Sonny Sutanto. Arsitek, Dosen Univ Indonesia, Anggota Dewan Pendidikan
Arsitektur, IAI.
23. Alwi Sjaaf
24. Hasan Halim, IAI, arsitek, Jakarta
25. Erwanto (arsitek & interior designer , jakarta)
26. Aditya Soekarno, Arsitek, Jakarta
27. Fitri Sasmita,IAI,arsitek,Jakarta..
28. Abdullah Harlansyah S
29. Ketut Rana Wiarcha.IAI, Ketua IAIBali
30. Firman Herwanto, arsitek praktisi & pengajar, jakarta
31. Khairil, Bandung
32. Viana Wicaksono
33. Bambang Sutrisno,IAI – Anggota Komisi V DPR-RI
34. S. Amril, Jakarta.
35. Ire Guritno

36. Enrico Halim, warga Jakarta

Where Am I?

You are currently browsing the event category at aikonia.