April 15th, 2012 § § permalink
- Karena jualan karya original susah.
- Karena walaupun ada orang yang ingin beli karya original, mereka belum tentu punya uangnya.
- Karena karya original susah dibawa ke mana-mana apalagi kalau udah dibingkai segala.
- Karena gue ingin sebanyak-banyaknya orang melihat dan tahu tentang karya-karya gue lalu berharap semoga mereka lantas ingin memilikinya.
- Karena karya yang dipakai dengan karya yang tidak bisa dipakai mestinya sama menyenangkannya buat siapapun yang memilikinya.
- Karena ingin bisa hidup dari karya-karya seni gue suatu hari nanti.
Terlepas dari semua alasan di atas, gue bikin kolase. Sebuah bentuk karya yang selain tidak umum tekniknya, juga tidak banyak yang membuatnya disini. Akibatnya, perjalanan yang mesti gue tempuh (Halah!), untuk membuat orang ingin membeli karya semacam ini, jadi jauh lebih lama dan berliku prosesnya. Saking seringnya mesti menjelaskan apa itu kolase, gue sudah mulai merasa mungkin sebaiknya gue bikin video tentang proses pembuatannya. Video itu lalu diletakkan di meja saat berjualan. Ini baru tentang proses pembuatan karya lho, cin! Lalu kapan dagangnya, bila proses bikin karyanya saja orang belum tahu?
Nah, di sinilah merchandising gue menjadi makin penting perannya. Karena saat karya gue sudah berbentuk merchandising, orang menjadi lebih gampang mengapresiasinya. Mereka bisa suka karena warnanya, gambar atau bentuk produk itu sendiri. Ini berarti; gue sudah berhasil memperpendek proses panjang tadi dan bisa memulai cerita tentang karya gue.
Itu tadi satu keuntungan dari merchandising yang gue bikin. Sekarang mari kita bicara tentang pemasaran atau penjualan merchandising yang menurut gue memang beda caranya dengan menjual karya original. Eh apakah ada yang mau berbagi tentang bagaimana jualan karya original? Hihihi! Kalo ada, gue mau dong!

Seni instalasi Ika Vaniati di Fashionation, April 2012
Dengan kondisi kalau jualan merchandising pun mesti dipikirkan strategi dan efektifitasnya, berikut ini hal-hal yang biasa gue lakukan:
Gue jarang stock up atau ready stock, karena nggak mau barang menumpuk dan tidak menjadi uang. Jadi gue produksi hanya pas mau ada kesempatan berjualan atau adanya pesanan. Kalau pesanan datang pun gue selalu minta dibayar lunas di depan ataupun setidaknya bayar separuhnya dulu. Ini memastikan juga jadi kita tahu pembelinya serius atau tidak.
Setiap ada tawaran jualan gue usahakan untuk mengetahui dulu siapa yang akan datang di acara itu. Usia, pekerjaan dan jenis kelaminnya. Karena kan anak kuliahan perempuan sama mas-mas kantoran pasti beda barang-barang yang menarik serta bisa mereka beli, bukan? Nah pastikan berbagai karakter pembeli yang kira-kira akan ada di sana terpenuhi dengan barang-barang gue ini.
Karena gue jualan barang buatan tangan atau hanya dibuat dalam jumlah terbatas, maka gue berusaha menceritakannya di semua kemasan produk gue. Deskripsi produk bisa panjang atau pendek, dan diletakkan di sebelah harga produk.
Jangan malas ngobrol! Setiap kali ada orang yang datang ke stand gue walaupun dia hanya pegang-pegang aja gue tetap menceritakan produk gue. Itu adalah waktu dimana setidaknya gue berkesempatan membuatnya tertarik – walau di akhir, ia hanya minta kartu nama. Jangan salah, yang ambil kartu nama ini bisa jadi, menghubungi setelah acara dan bicara tentang pembelian atau pemesanan barang lainnya.
Kartu nama, ibu-ibu dan bapak-bapak! Selalu bawa kartu nama ke manapun kita pergi dan jangan lupa meletakkan kartu nama di stand kita. Percaya deh! Ini awal dari banyak hal-hal menyenangkan di kemudian hari. Kalaupun mereka tidak membeli, tapi mereka sudah punya kontak kita dan bisa tanya-tanya misalnya kalau ada produk baru atau lain sebagainya.
Belajar bikin display jualan yang beda-beda dan menarik. Tahu yang mana yang produk unggulan mana yang produk tambahan. Kalau kita memang punya benang merah yang membuat karya-karya kita menjadi berbeda, namun saat yang sama kita juga ingin menjual barang yang sama sekali berbeda, pastikan tampilan stand atau meja kita memperlihatkan itu. Barang-barang jagoan harus lebih dominan daripada barang-barang pendukung.
Harga. Banting harga boleh, tapi kalau memang pembeli membeli banyak. Jangan mau ditawar seenaknya, ya! Kita kan jualan barang yang dibuat dengan cinta dan air mata begini, masak iya mau dinilai seharga barang kodian di Mangga Dua. Setuju cin?
Lain kali, gantian elo yang kasi tau gue apa yang lo lakuin pas jualan merchandise.
Terimakasih banyak buat Popoh, Sigit, Ameng, dan Ruang Rupa yang mengorganisir pameran ini. Terimakasih juga buat sesama peserta pameran: Cubatees, Recycle Experience, P.A.L.U, Jah Ipul, Kamengski, dan Komunitas Pecinta Kertas (KPK).
Sampai bertemu di pameran dan kesempatan jualan di lain waktu yaw!
Ika Vantiani
0812 87884432
iniakuika@gmail.com
www.vantiani.etsy.com (teuteup jualan!)
www.ikavantiani.blogspot.com
Share on Facebook
April 28th, 2011 § § permalink
December 3rd, 2010 § § permalink
Hari kamis 2 Desember 2010. Sore sebelum pameran dibuka, aku mampir ke Galeri Nasional untuk menengok Samuel Indratma yang akan berpameran bersama teman-teman dari Yogyakarta.
Gedung putih peninggalan zaman kolonian di seberang stasiun kereta Gambir itu kali ini diisi oleh banyak sekali karya yang mencerahkan!
“Di dalam pameran ada museum!” kata Samuel.
Ia menamakannya Museum Seni Indah Sejati. ‘Museum’ itu berisi karya dari 12 teman ‘perupa’ seperti penggambar spakbor becak, pengrajin karet bekas ban, ‘pemelintir’ kawat’, dan lainnya. Di tengah ruang diletakkan rumah doa yang lengkap dengan kursi besi lipat untuk ‘tunggu giliran’..
Segaar..
Seru benar!
Share on Facebook
February 3rd, 2010 § § permalink
Firman Ichsan terpilih sebagai Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2009 – 2012. Firman Ichsan yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Bidang Umum DKJ terpilih dengan dukungan lebih dari separuh anggota DKJ untuk menggantikan posisi yang sebelumnya dijabat oleh Marco Kusumawijaya.
Terkenal luas sebagai fotografer senior, kurator-penyelenggara pameran foto, juri lomba foto dan pelukis, Firman Ichsan juga aktif sebagai akademisi. Selain mengajar di Institut Kesenian Jakarta, belakangan ia menjabat sebagai wakil rektor di institusi tersebut.
Memimpin DKJ, Firman Ichsan bermimpi untuk menjadikan lembaga ini lebih mampu mendorong para seniman untuk mengembangkan kreativitas dan penciptaan karya seni dan menyalurkan berbagai karya seni bermutu kepada masyarakat. Direktur Eksekutif Jakarta Bienale XIII itu juga berharap agar institusi publik ini lebih modern, serta menjembatani masyarakat seni dengan masyarakat umum, agar Jakarta menjadi kota seni terdepan.
Berikut adalah susunan kepengurusan Dewan Kesenian Jakarta Periode 2009 – 2012 sebagaimana siaran pers yang diterima detikcom, Rabu (3/2/2010):
Ketua Pengurus Harian DKJ: Firman Ichsan
Sekretaris: M. Abduh Aziz
Ketua Bidang Program: Dewi Noviami
Ketua Bidang Administrasi, Keuangan: Sari Madjid
Ketua Bidang Umum: Eric Awuy
Komite Sastra
1. Ahmadun Yosi Herfanda
2. Diah Hadaning
3. Martin Aleida
4. Nur Zen Hae
Komite Musik
1. Aisha Pletscher-Sudiarso
2. Budi Utomo Prabowo
3. Dian HP
4. Eric Awuy
5. Jabatin Bangun
Komite Seni Rupa
1. Aisul Yanto
2. Sarnadi Adam
3. M. Firman Ichsan
4. Marco Kusumawijaya
Komite Film
1. Alex Sihar
2. Marselli Sumarno
3. Dr. Tanete A. Pong Masak
4. M. Abduh Aziz
Komite Tari
1. Dedy Lutan
2. Renee Sariwulan
3. Rury Nostalgia
4. Yudhistira Sjuman
Komite Teater
1. Jose Rizal Manua
2. Madin Tyasawan
3. Dewi Noviami
4. Sari Madjid
DKJ salah merupakan satu lembaga yang dibentuk oleh masyarakat seniman dan dikukuhkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 17 Juni 1969. Anggota DKJ berjumlah 25 orang, terdiri dari para seniman, budayawan dan pemikir seni, yang terbagi dalam 6 komite: Komite Film, Komite Musik, Komite Sastra, komite Seni Rupa, Komite Tari dan Komite Teater.
DKJ memiliki peran dan berfungsi sebagai mitra kerja Gubernur DKI Jakarta untuk merumuskan kebijakan guna mendukung kegiatan dan pengembangan kehidupan kesenian di wilayah Propinsi DKI Jakarta. Kebijakan pengembangan kesenian tercermin dalam bentuk program tahunan yang diajukan dengan menitikberatkan pada skala prioritas masing-masing komite.
by ESR
Share on Facebook
August 22nd, 2009 § § permalink

Karya Farhan berupa stensil di atas 149 lembar seng gelombang menyambut pengunjung dan pencinta senirupa.
Share on Facebook
August 13th, 2009 § § permalink
Namanya D’Peak, berlokasi di Jalan Fatmawati (depan ‘garasi’ kendaraan pemadam kebakaran).
D’peak yang baru dibuka tanggal 10 Agustus 2009 lalu, adalah sebuah gedung luas bertingkat tiga, dulunya bengkel mobil Volvo. Banyak sekali karya visual dipamerkan di sana.

Suasana yang cair pada saat pembukaan, membuat kesan segar dan tidak eksklusif, seperti kebiasaan sebuah acara senirupa. Berbagai kalangan bebas menikmati karya, tanpa harus merengut sewaktu memaknainya. Para senimanpun terlihat ‘happy’, mungkin karena melihat suasana yang ‘lain’ dari biasanya itu.
Share on Facebook
August 2nd, 2009 § § permalink
Banyak lingkaran merah berbagai ukuran tertempel secara menyebar di fasad bangunan Galeri Nasional Indonesia. Ini menunjukan ‘Ruang Rupa‘ yang sedang mengadakan perhelatan OK Video di sana, benar sedang bersenang-senang..
Tidak jelas, apa maksud ‘red polka dots’ menempel di mana-mana, oo.. mungkin ‘mengacu’ pada kostum badut? atau bola merah pada hidung badut? Mungkin, mereka tidak bermaksud apapun kecuali menyodorkan nuansa komedi yang menjadi tema festival video itu. Berhasil! Haha!

Share on Facebook
July 23rd, 2009 § § permalink
JAKARTA STREET ART UNITED

Artist Talk & disscus, Gathering
Exhibition street art, screening visual graffiti
sound system therapy
SUNDAY, 26 July 2009
Start: 14.00 – 22.00 WIB
@ Hb.Jassin ,Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat
Artist Talk & disscus, Gathering Exhibition street art, screening visual graffiti sound system therapy
SUNDAY, 26 July 2009 Start: 14.00 – 22.00 WIB @ Hb.Jassin ,Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat
* ARTIST TALK & DISSCUSION JAKARTA STREET ART * start: 14.00 wib
Pembicara : Ardie Yunanto ( ruangrupa), Aram (Tembokbomber Forum) Ugeng T. Moetidjo (ruangrupa) Moderator : POPO & Isrol Triono
Artist Talk : Age (Tutu), Echo (Morden), DAUD (flowercans) Bujangan Urban (Artcoholic), Baso, Maze (Karma Crew), eRJe378 JMX (STENZILLA), XAIT, DARBOTZ, Bam, ARKS, KIMS ( UBC ) Prophagraphic Movement, RHARHARHA (Sakitkuning Collectivo) POPO (k. segart), ISROL (Media Legal), jegir (KUAS N ROLL), JAR (Stiker Serbu) Guntur (Jong Merdeka), NSANE5, NAME2 (MASE), artkelso (DAILYWHATNOT)
* EXHIBITION STREET ART *
Opening : 19.00
Artist: TUTU , MAZE , BASO , RAS , Bujangan urban , ECHO YEAH ,KOMA ,si jago merah ,DARBOTZ ,POPO ,TOTER, pay air grapix JMX, ROBOWOBO, ISROL TRIONO ,ARKS, JAH IPUL ,XAIT, BERTUS JAR, CHOCO7, ARTKELSO, ERJE378, DAMNEDCARTOON, KUASnROLL, eloopz Ricky BolsQ, GUNTUR, RYAN ISENG, pinkgirlgowild, a’KUPS, MINE ARYBUYSELAMATPAGI, REST,ce FINE, kyow, NAME2, nsane5, KIMs, helloguno MONSTER JAM CREW, sid vi zeus, BREAK13, muth, FLOW, k. segart, RHARHARHA
Lowrider ArtDisplay : SUNSET RIDERS
* Visual Screening on The wall & Sound System Therapy * Start : 19.00 – 23.00 wib @ Rooftop ,Hb.Jassin
* VJ KOMA * VJ CHAINSMOKINGBASTARD
* RACUN KOTA * FRIGI FRIGI * ALEXANDER AVERIL YO-YO PLAYER * INDONESIAN BEATBOXING COMMUNITY * BONDI NED HANSEL Feat SAYAP KIRI * RUSTIQUE KOLLEKTIV feat. DJ ASUNG * Jl. Surabaya feat. NOVA RUTH * DANGER DOPE Vs PRINCIPLE OF SOUTH + DJ LATEX
Acara ini terselenggara berkat kerjasama dan dukungan:
RUANGRUPA,YAYASAN PUSAT DOKUMENTASI SASTRA HB.JASSIN, KARBON JURNAL , OK VIDEO, DEMA-IKJ,FAR MAGZ,TEMBOKBOMBER, DAILYWHATNOT,FOOTURAMA, URBAIN, PROVOKE, BABYBOSS,STREET MAGZ,FLATSTREET, SAKITKUNINGCOLLECTIVO
Organize by: angin segar
Share on Facebook
May 11th, 2009 § § permalink
Dulu ia berkarya dengan medium kertas. Kini, ia berkarya dengan metal!
Karya Samuel Indratma memang ‘gak da matinya’!

Tanggal 12 – 31 Mei 2009, mampirlah ke Tembi contemporary di Jalan Parangtritis KM 8,5. Bantul, Yogyakarta.
Atau Tunggu pamerannya di Salihara, Bulan November nanti..
Share on Facebook
March 10th, 2009 § § permalink
Pameran foto Heaven in Exile menampilkan sebagian kecil dari hasil foto perjalanan ziarah Enrico Soekarno, Jay Subikato, Krish Suharnoko, dan Yori Antar ke Lhasa, ibukota Tibet di tahun 2007.
Suasana sunyi di tengah visual yang hiruk pikuk, terlihat jelas di pameran foto ini. Ekspresi manusia, konfigurasi elemen estetis, dan situasi lengang, banyak ditampilkan oleh Enrico. Jay dengan foto seni hitam putih yang ‘high-contrast’. Foto panorama kota yang sunyi (cenderung mencekam) direkam dan ditampilkan dalam format besar oleh Khris. Yori menyodorkan foto arsitektur yang sangat padat dengan tampilan bangunan dan detailnya.
Aku sempatkan untuk menonton pemutaran film dokumenter ‘Leaving Fear Behind’ karya Dhondup Wangchen dan Gyaljong Tsetrin. Film dokumenter 25 menit ini, secara menarik dan sederhana memperlihatkan banyak komentar orang Tibet mengenai Olimpiade tahun 2008 lalu dan juga mengenai harapan kembalinya sang Dalai Lama ke Tibet.
Pameran yang membuka wawasan ini digelar untuk memperingati 50 tahun Hari Kebangkitan Tibet.
Share on Facebook