July 1st, 2010 §
Kekerasan, Perdamaian, dan Keindonesiaan
Tenggat waktu pengumpulan: 12 Juni – 2 Agustus 2010
Kompetisi esai ini mengundang seluruh siswa/i Sekolah Menengah Atas (SMA) dan mahasiswa/i S1 dari wilayah Jabodetabek sebagai peserta untuk menguraikan kekerasan dan pelanggaran HAM masa lalu di Indonesia serta memberikan pendapat atau saran agar peristiwa tersebut tidak berulang di masa depan.
Tema: Kekerasan, Perdamaian, dan Keindonesiaan
Deskripsi Tema: Peserta menjabarkan dalam bentuk esai mengenai kekerasan atau pelanggaran HAM berskala masif yang terjadi di Indonesia selama kurun waktu tahun 1965 hingga 2000 seperti Tragedi 1965, Penembakan Misterius (1983), Peristiwa Tanjung Priuk (1984), Talangsari (1989), Peristiwa Trisakti, Semanggi I & II (1998), Tragedi Mei 1998 dll. Argumen harus jelas dengan menjabarkan beberapa pertanyaan kunci yang menjadi panduan penulisan esai, yaitu:
1. Apa yang anda ketahui tentang peristiwa tersebut?
2. Menurut pendapat anda kenapa peristiwa tersebut bisa terjadi?
3. Apa tanggapan anda soal peristiwa tersebut?
4. Berikan saran anda agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali?
Rangkaian waktu Festival Esai 2010:
2 Agustus : Deadline penerimaan esai
14 Agustus : Pengumuman seleksi I: 32 penulis esai terbaik dari tiap kategori (pelajar SMA dan mahasiswa) akan dihubungi melalui telepon, email, pos untuk mengikuti
workshop penulisan esai.
19 – 22 Agustus : Workshop penulisan esai
26 Agustus : Pengumuman seleksi II: 14 esai terbaik dari tiap kategori
26 Agustus – 9 September : Masa konsultasi dengan mentor dan perbaikan esai 14 penulis terbaik dari tiap kategori
27 September : Pengumuman 3 finalis terbaik dari tiap kategori (pelajar SMA dan mahasiswa)
4 Oktober : Pengumuman juara utama (I, II & III) dari tiap kategori dalam acara Malam Penganugerahan Award
Syarat Peserta
1. Peserta terdiri dari 2 (dua) kategori, yaitu:
a. Siswa/i Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri atau swasta kelas 1-2 di wilayah Jabodetabek
b. Mahasiswa/i aktif S1 di salah satu perguruan tinggi negeri atau swasta di wilayah Jabodetabek dari seluruh jurusan dan disiplin ilmu;
2. Lomba ini merupakan lomba perorangan/individu;
3. Judul Esai bebas (Peserta bebas menentukan judul, tetapi masih dalam batasan tema);
4. Format esai :
* Kertas ukuran A4
* Essay minimal 5 halaman
* Margin 4-3-3-3 (atas-kanan-kiri-bawah)
* Times New Roman 12
* Spasi 2
5. Peserta mengirim berkas sebagai berikut :
* 2 rangkap hasil karya esai dalam bentuk hardcopy via pos dan dalam bentuk softcopy via email
* Fotocopy KTM untuk mahasiswa;
* Fotocopy Kartu Pelajar atau Kartu Keluarga untuk siswa SMA
* Pas foto 3×4, 2 lembar
* Fotocopy bukti pembayaran terakhir
6. Belum pernah dipublikasikan (orisinil);
7. Lomba tertutup untuk Panitia Festival Penulisan Esai.
8. Hadiah
Kategori SMA:
Juara 1 Netbook SONY Vaio VPCW21EAG (+ Win7 Starter)
Juara 2 Netbook HP Mini 210-1002TU (+Win XP Home)
Juara 3 Netbook BYON Chameleon N-610XP-GA (+ Win XP Home)
Kategori Mahasiswa:
Juara 1 Netbook SONY Vaio VPCW217AG (+ Win7 Starter)
Juara 2 Netbook TOSHIBA NB300-A102G (3G) (+Win7 Starter)
Juara 3 Netbook Netbook HP Mini 210-1002TU (+Win XP Home)
Para pemenang juga akan mendapatkan kesempatan magang di Komnas HAM ataupun lembaga-lembaga anggota jaringan Kelompok Kerja Pengungkapan
Kebenaran (KKPK) yang ada di Jakarta.
Materi-materi terkait penulisan esai dan informasi lebih lengkap bisa dilihat dalam blog:
<http://esaimelawanlupa.wordpress.com>
Email:
panitia.esai@gmail.com & panitia.esai@yahoo.com
Facebook:
Festival Esai “Kekerasan, Perdamaian dan Keindonesiaan”
Kepanitiaan Bersama:
Sekretariat: Jl. Madrasah IX No. 9A, Cawang Kavling, Jakarta Timur 13340, INDONESIA
Tel./Fax: (021) 8590 4403, Tel: 300-72278
–
Zico Mulia
Secretary, PEC (People’s Empowerment Consortium)
Assistant Secretary, KKPK (Kelompok Kerja Pengungkapan Kebenaran / Working Group for Truth Recovery)
Share on Facebook
May 1st, 2010 §
Ajakan dari Jaringan Suara Keluarga Korban..
Rekan-rekan seperjuangan yang kami hormati,
Kami percaya kepada Rekan-rekan pasti ingat bahwa tg. 1 Mei adalah hari kemenangan kaum buruh sedunia. Kemudian, tg. 2 Mei adalah hari Pendidikan Nasional, dan tg. 20 Mei adalah hari Kebangkitan Nasional.
Melalui hari-hari istimewa itu kita dipicu untuk semakin meningkatkan diri dari waktu ke waktu, baik itu kesejahteraan buruh, kecerdasan bangsa, dan juga makna hidup dalam negara merdeka. Namun kemerdekaan itu telah dinodai oleh penguasa Orde Baru yang haus akan kekuasaan, dimana untuk melanggengkan kekuasaannya telah melakukan tindakan-tindakan yang tidak manusiawi: tg. 8 Mei ’88 terjadi pembunuhan terhadap seorang aktivis buruh bernama Marsinah, tg. 12 Mei ’98 terjadi penembakan empat mahasiswa Trisakti, dan tg. 13-15 Mei ’98 terjadi tragedi berdarah di Jakarta, Lampung, Palembang, Medan, Solo, dan Surabaya.
Sehubungan dengan itu, kami mengundang Rekan-rekan seperjuangan untuk bergabung melakukan aksi damai untuk melawan lupa atas berbagai peristiwa masa lalu itu, pada:
hari : Kamis
tanggal : 29 April, 6 Mei, 20 Mei, dan 27 Mei 2010
waktu : jam 16.00 – 17.00 (tepat)
perlengkapan aksi : foto, payung hitam, spanduk, selebaran berupa surat kepada Presiden, dll.
keterangan : aksi damai diakhiri dengan refleksi dan doa.
Kami akan merasa senang apabila Rekan-rekan menjadikan ruang aksi damai tersebut untuk sarana menyampaikan suara hati kita kepada publik, sehubungan dengan banyak permasalahan hak asasi rakyat yang belum mendapatkan perhatian dari pemerintah.
Atas kehadiran dan peran serta Rekan-rekan semua, kami mengucapkan terima kasih.
Jakarta, 27 April 2010
“Jangan Diam”
a.n. JSKK,
Sumarsih
Share on Facebook
April 17th, 2010 §
Undangan mengenang sebuah perlawanan, merayakan perjuangan “Hasta Mitra: Mencerdaskan Bangsa lewat Buku” Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) dan Jaringan Videomaker Independen (JAVIN) mengundang rekan-rekan untuk hadir dalam peringatan 30 Tahun berdirinya Hasta Mitra pada;
Selasa, 20 April 2010, pukul 17.00 hingga selesai
Di: Rumah Dolorosa Sinaga, Jl. Pinang Ranti No. 40 RT 015/RW 01, Pinang Ranti, Pondok Gede, Jakarta Timur (perempatan Garuda, seberang Tamini Square).
Acara: Pemutaran film dokumenter tentang Hasta Mitra oleh JAVIN
Perbincangan: Jejak langkah Hasta Mitra dalam mencerdaskan bangsa Bersama Wilson, Hilmar Farid, dan keluarga pendiri Hasta Mitra Pameran sejarah pelarangan buku dan buku-buku produksi Hasta Mitra.
Sekilas Hasta Mitra
April tiga puluh tahun silam, tepat ketika rezim Orde Baru tengah mencapai puncak kejayaannya, tiga orang eks tapol (tahanan politik): Joesoef Isak, Hasjim Rachman dan Pramoedya Ananta Toer, sepakat mendirikan perusahaan penerbitan Hasta Mitra (Tangan Sahabat). Menolak menjadi hantu berkeliaran, mereka maju secara terang-terangan, mengabaikan teror dan pembatasan terhadap gerak eks tapol untuk menyebarkan buah pikiran mereka secara meluas. Sebagai langkah awal, lewat karya-karya Pramoedya Ananta Toer, yang kemudian dikenal dengan ‘Tetralogi Buru’, Hasta Mitra menyampaikan kisah yang berbeda dari versi sejarah resmi tentang perjalanan bangsa ini kepada generasi muda yang sedang resah akan nasib negerinya.
Gebrakan Hasta Mitra ternyata bukan saja menggegerkan dunia sastra Indonesia dan dunia, tetapi juga mengusik kenyamanan penguasa Orde Baru. Selang setahun setelah Bumi Manusia terbit dan memecahkan rekor penjualan buku terlaris — 5.000 eksemplar dalam 12 hari — pemerintah melalui Kejaksaan Agung melarang peredaran novel ini karena dianggap menyebarkan ajaran Komunisme. Pelarangan diikuti dengan pemanggilan dan interogasi terhadap para pengelola Hasta Mitra, serta penyitaan buku. Tindakan represif pemerintah tidak membuat trio Joesoef, Hasjim dan Pramoedya jera. Mereka melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing: Pramoedya menulis, Joesoef menyunting, dan Hasjim mencari modal usaha. Buku demi buku diterbitkan dan dilarang, namun buku-buku Hasta Mitra tetap beredar secara gerilya, terutama di kalangan aktivis pro-demokrasi, intelektual, dan pekerja kebudayaan. Penyitaan dan kesulitan memperoleh hasil penjualan gerilya membuat Hasta Mitra menanggung rugi, tapi keberanian dan keuletan Hasjim Rahman dan Joesoef Isak dalam mengelola sedikit modal dan mengolah lusinan naskah sudah membuat Hasta Mitra bertahan sebagai ‘penerbit buku bermutu’ sampai akhir hayat para pendirinya.
Sepanjang 1980-1998 Hasta Mitra adalah badan penerbitan yang bukunya paling banyak dilarang Kejaksaan Agung. Pemerintah seakan melihat bagaimana terbitan Hasta Mitra sudah menjadi inspirasi dan sumber pengetahuan baru bagi para aktivis gerakan pro demokrasi. Di masa itu membaca buku-buku Hasta Mitra adalah wajib bagi mereka yang peduli pada nasib bangsa dan negeri ini. Penangkapan, pengadilan dan penghukuman para pemuda yang mendiskusikan dan mengedarkan karya-karya Pramoedya Ananta Toer terbitan Hasta Mitra semakin menegaskan betapa kerdilnya rezim Orde Baru di hadapan gagasan pembebasan pikiran. Joesoef Isak, Hasjim Rachman dan Pramoedya Ananta Toer telah tiada. Tapi, jerih payah mereka tetap hidup, dalam buku-buku yang masih beredar, sebagai simbol perlawanan terhadap rezim anti-kebebasan berpikir dan berpendapat.
njalanya tak terpadamkan hingga kini nanti dan kapanpun njalanya panas menempa badja kemerdekaan badja kehidupan ketika kita tidak lagi bertanja pilih njala atau pilih badjanya? dan kita merebut kedua-duanja” Agam Wispi, “Surabaja” (1965)
Share on Facebook
April 14th, 2010 §
Climate-Smart Leaders (CSL) adalah program yang ditujukan bagi generasi muda dengan usia 15 – 24 tahun yang memiliki aktivitas tinggi di daerah perkotaan. Program ini bertujuan tidak hanya untuk membangun kesadaran tentang pentingnya peran generasi muda untuk menjawab tantangan perubahan iklim namun juga memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk terlibat langsung dan melakukan aksi nyata untuk menerapkan gaya hidup hijau (green lifestyle) sebagai salah satu strategi mitigasi dan adaptasi terhadap dampak negatif perubahan iklim.
KRITERIA PESERTA : :
- Warga Negara Indonesia (WNI) berusia 15 – 24 tahun
- Memiliki dorongan kuat untuk mewujudkan project/ide tersebut baik secara perorangan maupun sebagai kelompok
- Mewakili anak muda yang memiliki aktivitas di perkotaan
- Memiliki project (dapat berupa produk/ide kreatif) yang mendorong penerapan teknologi dan gaya hidup hijau di perkotaan terkait perubahan iklim untuk pembangunan berkelanjutan
Bersedia secara aktif memimpin dan menyebarluaskan gagasan
- Bersedia untuk mengikuti keseluruhan sesi kegiatan CSL
- Peserta dalam bentuk kelompok sangat dianjurkan mewakili lembaga dengan struktur project yang jelas
KRITERIA PROJECT:
- Project belum pernah diikutsertakan dalam program sejenis
- Project terkait perubahan dapat diterapkan (workable), iklim dengan bobot dampak positif (impacts), dapat direplikasi lebih luas (replication), dan dapat dilanjutkan setelah program CSL berakhir (sustainability)
- Project memilih satu atau lebih tema berikut :
- Youth & Biodiversity
- Youth & Water – Energy
- Youth & Green Business
- Youth & Media
- Project harus menunjukan tahapan pencapaian yang jelas dan tahapan awal kemajuan project harus dapat dicapai dalam kurun waktu 3 bulan (Agustus – Oktober 2010)
- Project didukung oleh sumber daya alam seminimal mungkin dan biaya yang rasional
- Meskipun ditujukan pada kelompok muda dengan aktivitas utama di perkotaan, implementasi project yang diajukan tidak terbatas pada lingkungan perkotaan
Proposal yang menunjukan inovasi teknologi akan mendapatkan nilai tambah. Pemenang dengan inovasi teknologi akan direkomendasikan mengikuti kesempatan pendanaan project dari Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia melalui Program RAMP Indonesia. Informasi lebih lanjut silahkan mengunjungi website www.inotek.or.id
HADIAH PEMENANG
- Hadiah pemenang berupa seed funding dan akan diberikan kepada peserta dengan project terbaik melalui beberapa tahap
- Hadiah akan diberikan setelah peserta menyertakan laporan kegiatan
- Peserta Program CSL yang tertarik untuk mengembangkan proyeknya (yang berbasis inovasi teknologi) lebih lanjut dianjurkan setelah mengikuti Program CSL untuk mendaftarkan proyeknya pada program RAMP yang dikembangkan oleh Yayasan Inovasi Teknologi*.
CSL Award:
Kategori usia 19-24 tahun
Juara I: seed fund sebesar Rp.15 juta
Juara II: seed fund sebesar Rp.10 juta
Juara III: seed fund sebesar Rp.7,5 juta
Finalis: seed fund sebesar Rp.4 juta
Kategori usia 15-18 tahun
Juara I: seed fund sebesar Rp.10 juta
Juara II: seed fund sebesar Rp.7,5 juta
Juara III: seed fund sebesar Rp.5 juta
Finalis: seed fund sebesar Rp.2,5 juta
BATAS WAKTU PENGIRIMAN PROPOSAL : 30 APRIL 2010
Informasi lebih lanjut silahkan log-on ke www.climatesmartleaders.net atau email ask.to.csl@gmail.com
Mohon sebarkan informasi ini kepada teman/institusi/sekolah/jaringan yang anda kenal dan mungkin tertarik untuk mengikuti program ini.
Terimakasih banyak sebelumnya.
Salam,
Gita Meidita
Program Officer
Yayasan Pembangunan Berkelanjutan/ LEAD Indonesia
Share on Facebook
April 13th, 2010 §

visual: Arief Adityawan
Hari/Tanggal : Kamis, 15 April 2010
Waktu : 15.00 WIB
Tempat : Ruang Sidang Panel Lt. 4 Gedung Mahkamah Konstitusi,
Jl. Medan Merdeka Barat No. 7
Permohonan uji materi ini diajukan oleh Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI), penerbit buku Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto karya John Roosa, dan Rhoma Dwi Aria Yuliantri, salah satu penulis buku Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakyat 1950-1965. Kedua buku dilarang bersama dengan tiga buku lainnya oleh Kejaksaan Agung pada 22 Desember 2009.
Kami berharap persidangan ini bisa menjadi ruang terbuka bagi publik untuk membela hak berekspresi dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Kehadiran dan dukungan Bapak/Ibu serta rekan-rekan sekalian karena itu sangat kami harapkan.
Hormat kami,
Agung Ayu Ratih
Ketua Pengurus ISSI
Hilmar Farid
Ketua Dewan Pembina ISSI
Share on Facebook
April 10th, 2010 §

Teater Tetas akan ikut ambil bagian dalam acara BIS Performing Arts Festival 2010, sebuah acara tahunan yang diselenggarakan oleh British International School Jakarta. Kali ini Teater Tetas akan menampilkan sebuah lakon bertajuk “Questioning Ekalaya”, sebuah naskah yang ditulis dan disutradarai oleh Ags. Arya Dipayana. Naskah tersebut merupakan penggalan dari epik Mahabharata, berisi kisah raja Paranggelung Ekalaya yang ditolak oleh Resi Durna ketika memohon untuk diterima sebagai muridnya.
Sebagai seseorang yang memiliki kesungguhan dalam upaya meningkatkan kualitas diri, Ekalaya kemudian membuat patung berujud Resi Durna. Ia menyepi di sebuah hutan untuk melatih diri. Setiap kali ia memulai latihan, dia lakukan terlebih dulu memohon restu kepada patung tersebut, seolah-olah seorang murid yang memohon petunjuk gurunya. Syahdan, Ekalaya kemudian memiliki kemampuan yang bahkan melampaui Arjuna, murid terkasih Resi Durna. Hal ini melahirkan kecemburuan Arjuna, yang dengan caranya kemudian berusaha untuk mengungguli Ekalaya.
“Questioning Ekalaya” bukan saja merupakan cerminan bahwa suatu kehendak untuk belajar sungguh-sungguh akan menemukan jalannya, melainkan juga suatu gambaran bagaimana seorang kesatria seperti Arjuna menyikapi pesaingnya, dan betapa seorang guru sebesar Resi Durna ternyata dapat juga berbuat alpa. Lakon berdurasi kurang-lebih 90 menit ini akan didukung oleh pemain-pemain Teater Tetas, yaitu Hari Prasetyo, Meyke Vierna, Ayat Muhammad, Artasya Sudirman, Dea Malyda, Yosep Viar, Adi Nugraha, Lukman Dardiri, Yova Tri Wahyuni dan Jerryanto.
Pentas “Questioning Ekalaya” akan dilaksanakan pada hari Jumat, 23 April 2010, jam 19.00, bertempat di Raffles Stage, World Theatre, British International School yang beralamat di Bintaro Jaya sektor 9, Jakarta Selatan. Pertunjukan itu berlaku untuk umum. Pemesanan tiket pertunjukan dapat dilakukan dengan menghubungi Stefanie di telepon [021] 745 1670 ext. 608 atau melalui e-mail: worldtheatre@bis.or.id
Share on Facebook
March 25th, 2010 §
Hari Kamis, 25 Maret 2010. jam sudah lewat 45 menit dari jam sepuluh pagi.
Ruang Pembina di Lantai dua Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang mewah dan dingin itu mulai dipenuhi manusia. Bangku-bangku empuk berwarna abu-abu terlihat rapih disusun berpasangan dengan meja dihadapannya. Di atas setiap meja masing-masing sudah tersedia microfon merk Bosch, sebuah map kuning berlogo DPRD DKI Jakarta, sebuah piring dengan empat macam kue, dan sebotol air mineral serta cangkir kosong lengkap dengan kantung gula dan cream.
Terlihat pengaturan yang rapih. Masuk dari pintu ke ruang besar itu, warga kota yang dikategorisasi dalam kelompok Lembaga Swadaya Masyarakat, Media Massa, dan Wakil Peguruan tinggi/akademisi, dipersilahkan duduk di tiga baris kursi dan meja yang menghadap ke tiga baris kursi dan meja di mana para wakil rakyat kota ini dipersilahkan duduk. Di sisi kiri ruangan, ada dua kursi dengan sandaran lebih tinggi dari kursi lainnya untuk pemimpin pertemuan dan wakilnya. Pemimpin pertemuan kali itu adalah wakil ketua DPRD DKI Jakarta Bapak Triwisaksana. Di hadapannya, sebuah layar besar menampilkan sorotan projektor dari sebuah meja rendah di tengah ruangan. Sebagai ‘bonus’.. di belakang layar, terlihat satu meja panjang dengan berbagai wadah alumunium mengkilat.. rupanya pertemuan kali itu juga dilengkapi dengan makan siang. Agenda pertemuan pagi itu adalah perkenalan mengenai Balegna, Prolegda (yang konon merupakan alat baru bagi DPRD, dan baru dijadikan undang-undang pada tahun 2009), dan mendengarkan masukan warga mengenai Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) yang perlu dan tidak untuk dibahas agar dapat disahkan menjadi Peraturan Daerah (Perda).
Pemimpin rapat, pak Sani itu, terlihat dan terdengar profesional, tidak seperti bayangan umumnya orang pemerintah. Ia memperkenalkan diri dari PKS. Sila baca tulisannya di sini.
Walau masih terlihat ada anggota pemerintah yang tidur di salah satu kursi empuk itu, pada prinsipnya, pertemuan itu bernilai positif.
Wakil warga kota sedang bekerja untuk mendapatkan masukan demi kebaikan kota. Siapa saja bisa memberi masukan.
Untuk mengajukannya, cukup email ke balegdadkijakarta@hotmail.com. Pastikan, ajuan yang dikirimkan, menggunakan format berikut ini;
- Nama Raperda (yang diusulkan)
- Peraturan Perundang-undangan terkait (UU/PP/PerPress/PERDA)
- Pokok Materi yang diatur
- Nama yang mengajukan (pribadi/organisasi)
- Alamat
- Nomor telepon
- Alamat e-mail
Kemudian pantau perkembangannya.
Untuk informasi lebih lanjut, bisa hubungi Balegda DPRD DKI Jakarta, melalui Bagian Perundang-undangan di Sekretariat DPRD di Gedung DPRD lantai Lima, Jalan Kebon Sirih 18. Telepon 385.0571. Fax 345.4965.
Share on Facebook
March 25th, 2010 §

Rabu Sore itu Galeri Ruang Rupa menjadi ruang diskusi sekaligus peluncuran Buku Videokronik.
Buku ini sebenarnya telah diluncurkan di akhir tahun lalu di Yogyakarta. Kali ini baru diperkenalkan di Jakarta dengan adanya acara ini.
Setelah ngaret hampir satu jam, acara pun dimulai. Enrico Aditjondro dari Engage Media memperkenalkan diri dan para pembicara yang hadir.
Datar dan singkat, adalah bagaimana isu video aktivisme sosial diangkat ke permukaan oleh Fredi dan Nuning dari Kunci dalam kata pengantar mereka. Setelah empat penanggap, sesi tanya jawab dilakukan lebih cair dan menyenangkan.
Buku Videokronik versi cetak, dijual Rp 40.000,- Sila kontak ali@alimander.com, bila berminat.. Atau, kalau ingin mendapatkan versi dijitalnya, sila unduh di sini.


Tak lama aku di RuRU, aku ingin segera baca bukunya di rumah..
Share on Facebook
March 21st, 2010 §

Apa itu? Itu lho .. salah satu cara wakil rakyat daerah (DPRD) mendengar suara warganya. Yup! akupun baru tahu!
Salah satu cara DPRD itu berupa sidang Badan Legislasi Daerah. Hal ini ternyata sudah dijadikan undang-undang sejak tahun 2004. Sedikit mengenai badan itu dalam bahasa awam, bisa dibaca di sini.
Nah, sekarang waktunya warga kota bersuara. Kalau bosan hanya ‘complain’ soal kemacetan, banjir, pungli, dll di kota kita ini, datanglah ke sidang mereka berikutnya Hari Kamis, 25 Maret 2010 mendatang. Bersuaralah dan ikut tentukan mau dijadikan kota ini nantinya..
Share on Facebook
February 23rd, 2010 §
Petisi Menolak Pembongkaran Gedung Bioskop Garuda dan Bioskop Surya
Dengan adanya rencana pembongkaran terhadap gedung bioskop Garuda dan Gedung
Surya yang merupakan bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Pangkal
Pinang pada tangga 24 Februari 2010, tanpa didahului oleh sebuah kajian yang
tepat, maka kami menyampaikan petisi ini.
Gedung Bioskop Garuda (dibangun pada tahun 1919) dan Gedung Biokop Surya
(dibangun pada tahun 1924, dahulu bernama Aurora) yang berlanggam art-deco,
merupakan tonggak sejarah perjalan perfilman di Indonesia. Di dalam buku
karangan HM Johan Tjasmadi, ISBN 978-979-15855-6-9 pada halaman 11 memuat
Bioskop Aurora dalam Daftar Bioskop di Wilayah Hindia Belanda tahun 1936.
Sebelumnya Pemerintah Kota Pangkal Pinang telah terlebih dahulu membongkar
Bioskop Banteng (dibangun pada tahun 1917) walau telah dilakukan kajian oleh
Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala dan Gedung Bioskop tersebut telah
dinyatakan memenuhi kriteria sebagai Bangunan Cagar Budaya.
Pembongkaran Gedung Bioskop Banteng, yang masuk di dalam daftar Bangunan
Cagar Budaya yang dilansir oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwasata,
disinyalir telah melanggar UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya,
dan Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan
Pariwisata No. 42 Tahun 2009/Nomor 40 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelestarian
Kebudayaan.
Foto citra Gedung Bioskop Aurora dapat dilihat di
sini<http://img20.imageshack.us/img20/9482/aurora1952.jpg>
Foto sampul Gedung Biokop Aurora dalam cover buku 100 tahun Bioskop di
Indonesia dapat dilihat di
sini<http://img29.imageshack.us/img29/2391/coverbuku100tahunbiosko.jpg>
Berkas Surat dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala halaman 1 dapat
di sini<http://img710.imageshack.us/img710/2994/suratdaridirpeninggalan.jpg>
Berkas Surat dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala halaman 2 dapat
di sini <http://img62.imageshack.us/img62/2994/suratdaridirpeninggalan.jpg>
Guna menghindari kemungkinan hilangnya Bangunan Cagar Budaya lainnya, kami
menyatakan PETISI MENOLAK PEMBONGKARAN GEDUNG BIOSKOP GARUDA DAN BIOSKOP
SURYA hingga dilakukan kajian oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala.
Kami yang menyatakan sikap :
01. Melly Suwandhani; Jakarta
02. Ahmad Djuhara, Ketua Kehormatan IAI Jakarta; Jakarta
03. Ariko Andikabina, Arsitek; Jakarta
04. M. Ridwan Kamil, Arsitek, Anggota Tim Penasehat Arsitektur Kota; Bandung
05. Her Pramtama, Ketua IAI Jakarta
06. Maulana HM, Arsitek, Jakarta
07. Ririn Soedarsono, Arsitek, Dosen Arsitektur ITB, TPAK; Bandung
08. Irwantoko, Arsitek & builder; Jakarta
09. Bambang Sumantri, Arsitek; Jakarta
10. Marco Kusumawijaya, editor www.rujak.org; lahir dan besar di kedua
bioskop itu.
11. Silvia Honsa, arsitek; Bekasi
12. Nurul Haq. Arsitek; Makassar
13. Romandi, Batam
14. Arya Arbieta, IAI,
15. Ary Hartanto, Arsitek, Jakarta
16. HAN AWAL IAI ,arsitek konservasi, Jakarta
17. M.Danisworo ( Prof. ITB,Ketua Pusat Studi Urban Desain, anggota Tim
Penasehat Arsitektur Kota DKI, anggota Tim Sidang Pmugaran DKI)
18. I G. Oka Sindhu Pribadi, Arsitek, Planner, Akademisi
19. Cut Mutia Hamzah Ismangun
20. Tecky Hendrarto
21. Gatot Surarjo, arsitek, Jakarta
22. Sonny Sutanto. Arsitek, Dosen Univ Indonesia, Anggota Dewan Pendidikan
Arsitektur, IAI.
23. Alwi Sjaaf
24. Hasan Halim, IAI, arsitek, Jakarta
25. Erwanto (arsitek & interior designer , jakarta)
26. Aditya Soekarno, Arsitek, Jakarta
27. Fitri Sasmita,IAI,arsitek,Jakarta..
28. Abdullah Harlansyah S
29. Ketut Rana Wiarcha.IAI, Ketua IAIBali
30. Firman Herwanto, arsitek praktisi & pengajar, jakarta
31. Khairil, Bandung
32. Viana Wicaksono
33. Bambang Sutrisno,IAI – Anggota Komisi V DPR-RI
34. S. Amril, Jakarta.
35. Ire Guritno
36. Enrico Halim, warga Jakarta
Share on Facebook