Investasi di Pendidikan

September 23rd, 2009 § 0

Di kala negara mengalami kemunduran ekonomi, presiden Obama mengusahakan pemulihan dengan menginvestasikan 12 milyar dolar di bidang pendidikan. Memperbaiki gedung, mengadakan banyak komputer, menaikkan gaji guru? Ya, itu semua, namun bukan pada sekolah-sekolah berperingkat tinggi dan terkenal, tapi di sekolah-sekolah kecil (community colleges).

Mengapa demikian?

Menurut studi yang dilakukan oleh Universitas Stanford dan IFO Institutes di Munich; dengan sekedar meningkakan kualitas belajar di sekolah (seperti membuat kelas dengan pelajar lebih sedikit, menggaji guru lebih tinggi, menyediakan perangkat belajar modern), tidak selalu mendorong hasil yang lebih baik. Terbukti dengan studi yang dilakukan di Amerika, Perancis, dan Jerman, bahwa menaikkan pengeluaran pada pada pendidikan saja, hanya menghasilkan performa negara yang stagnan. Perhatian yang terfokus pada menaikkan jumlah anak yang masuk sekolah, atau mengusahakan sebuah sekolah berada dalam ranking atas dunia, ternyata tidak membawa hasil yang diinginkan, yaitu mendorong kemakmuran sebuah negara.

Pertanyaan sebenarnya adalah: pengeluaran bagi pendidikan seperti apa yang dapat dipertanggung jawabkan dan efektif secara sosial dan ekonomi?

Jawabannya adalah: negara perlu mendorong pembangunan di sektor pendidikan yang berada di tingkat bawah. Membangun infrastruktur pendidikan bagi masyarakat kelas bawah memacu lebih banyak warga untuk memperoleh pendidikan lebih tinggi, yang kemudian mendorong banyak orang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik, sehingga kemudian meningkatkan kesajahteraan (mengecilkan jurang pemisah si kaya dan si miskin).

Disadur dari tulisan Stefan Theil: Dumb Money. Newsweek 17 agustus 2009.

Film ‘beneran’: What Dreams May Come

July 13th, 2009 § 0

200px-Whatdreamsposter

Film yang disutradarai oleh Vincent Ward di tahun 1998 ini, membuatku menangis. Bagiku, ini adalah film cerita paling sedih, setelah film The Champ (1979) yang aku tonton di masa kecil.

Robin Williams, Annabella Sciorra, Cuba Gooding Jr. dan lainnya, memainkan karakter-karakter di novel Richard Matheson dengan sangat baiknya.

Ceritanya banyak mengandalkan dialog yang puitis. Juga menarik, bagaimana film ini menampilkan dunia setelah kematian dengan  ‘penampakan’ cat yang tidak biasa. Warna-warni cat akrilik menjadi dinamis dan ekspresif, mendorong kehidupan dalam cerita tentang kematian.

Salah satu ‘quotes’ menarik dari karakter Christ: ‘What’s true in our minds is true, whether some people know it or not’.

Film ini mengingatkanku pada rasa cinta yang dapat mengalahkan segalanya.

Singgih Susilo Kartono

January 19th, 2009 § 9

Sepertinya tidak lama yang lalu, aku berkenalan dengannya. Singgih, itulah nama yang diucapkan sewaktu berkenalan di tahun 1990-an. Singkat, jelas, padat.

Belasan tahun kemudian, setelah begitu banyak kejadian berselang, Singgih mengagetkanku dengan sapaan melalui pesan singkat, menawarkan radio kotak kayunya, untuk dibeli. Untuk ongkos ke Korea, katanya. Lho ngapain? Radioku menang di sana.. perlu biaya. Ia perlu menghadiri berbagai upacara penobatan juara atas rancangan radionya. Radio kayu telah membawa Singgih berkeliling dunia.

Baru-baru ini, kami terlibat obrolan di alam maya.. sedikit mengingat masa-masa itu.. Karya Singgih sudah menjadi  sesuatu yang membanggakan, maka aku minta ia untuk berbagi. Berikut ini adalah cuplikannya.

me-2-by-amir-sidharta.jpg
foto: Amir Sidharta

Perkenalkan dong diri Anda (di bawah lima kalimat..)
Hi, saya Singgih, tinggal dan bekerja di Desa Kandangan, Temanggung Jawa Tengah. Saya merancang dan memproduksi produk-produk fungsional dari kayu dengan brand ‘magno’. Lebih jauh silakan kunjungi web saya www.magno-design.com.

assembling-wr01a.jpg

Apa rasanya menjadi obyek pemberitaan berbagai media, atas usaha dan keberhasilan Anda di banyak lomba dunia
Haha meski saya sangat memimpikannya, namun apa yang terjadi sungguh diluar perkiraan saya. 4 tahun lalu ketika saya mulai merintisnya, semuanya mulai dari nol, saya harus mencari kayu limbah dan memboncengkannya dengan sekuter sejauh 40 km dan workshop saya adalah ruang tamu rumah saya sendiri yang saya alihfungsikan.  Dengan perjuangan yang sungguh berat, saya tentu gembira dengan penghargaan yang saya raih sekarang ini. Yang lebih menggembirakan karena akhirnya ada desain produk kayu dari Indonesia yg  dihargai dari sisi desainnya di tingkat international.

Apakah dari dulu, memang ingin menjadi seorang perancang produk?
Barangkali memang begitu, tetapi sampai di tingkat SMA saya tidak tahu persis ada profesi desain produk. Sejak kecil saya memang gemar merancang dan membuat mainan sendiri, dan selalu dengan desain yang berbeda dibandingkan teman-teman yang lain..

Kalau ada, siapa perancang yang dikagumi?
Barangkali Vicktor Papaneck, melalui bukunya ‘Design for the Real World’ yang menorehkan kesadaran tentang aspek sosial dari sebuah desain. Desain sekarang ini lebih banyak menjadi tools kapitalisme, ujung tombak konsumerisme dari sisi produsen, dan jembatan ‘innovation race’ ke pasar. Victor Papaneck mengingatkan kita tentang sisi berbahaya dari profesi desain.

Pengaruh dari siapa/apa dalam merancang?
Saya tidak tahu persis siapa yang mempengaruhi saya dalam berkarya. Namun saya menyukai karya desain Jepang dan Skandinavia, terutama desain-desain produk kayu. Saya menyukai kesederhanaan, detail dan desainnya yang cenderung timeless. Oya, juga craftsmanshipnya.

Dari mana mendapatkan informasi/berita?
Koran, majalah, buku dan tentu saja INTERNET

Pilih pensil atau bolpen?
Pensil lebih nyaman untuk bikin sketsa, namun balpen bisa juga kalau lagi ada ide dan yang tersedia cuma balpoin. Saya juga banyak menggunakan kertas bekas untuk membuat sketsa.

Ada buku apa di meja?
Saya tidak pernah menaruh buku bacaan di meja, tidak terlalu banyak baca, lebih banyak mengamati. Namun ada beberapa buku yang sangat berkesan dan menggugah. ‘Belajar dari Jepang’ karangan Sayidiman Hadipraja mantan dubes Indonesia di Jepang. Saya ingat buku ini saya beli di pasar buku Palasari Bandung waktu kuliah dan buku ‘Made in Japan’ karangan pendiri Sony. Saya tidak banyak membaca buku desain, saya lebih suka membaca buku biografi dan kalau sedang punya waktu membaca novel.

me-my-wife.jpg

Manusia yang dikagumi?
Saya mengagumi bangsa Jepang. Mereka bangsa yang sangat maju namun juga sangat santun. Mereka sangat maju dan makmur dengan sumberdaya alam yang sangat terbatas, saya kira mereka telah menemukan sumber alam terbesarnya, yaitu di SDM.

all-stars.jpg

i-explain-about-the-importance-of-tree-replantation.jpg

Manusia menurut Anda?
Karena karunia akal, manusia adalah mahluk paling kreatif, manusia adalah mahluk berkarya. Namun sangat sedikit orang yang menyadari, kreativitasnya juga menimbulkan masalah. Permasalahan lingkungan yang terjadi sekarang ini merupakan efek dari kreativitas itu sendiri. Manusia adalah mahluk paling ‘nyampah’, dan sampahnya kreativitasnya lebih ‘bau’ dan ‘kotor’ dari sampah organiknya sendiri. Sudah saatnya kita menyadari ketidaksempurnaan kita, akal menjadikan kita mahluk paling pintar, namun saya pikir budi juga harus terus di asah, agar manusia menjadi lebih wise. Saya pikir, manusia yg baik adalah manusia yang menyadari kesempurnaan sekaligus ketidaksempunaannya, sungguh tidak mudah menjadi manusia yang baik, karena faktanya manusia merupakan mahluk yang hidupnya sangat bergantung pada manusia lain dan hidup bagi manusia tidak selesai di makan dan meneruskan keturunan…

arti ‘opensource’?
terus terang saya tidak tahu persis artinya, kalau boleh saya mengartikan sendiri opensource adalah sumber-sumber yang terbuka yang bisa diunduh siapa saja dan bisa terus dikembangkan siapa saja. Ini menarik, karena ini keluar dari pakem kapitalisme. Memberi dan menerima itu bagian dari kemanusiaan, tidak semuanya harus dialihkan  dengan transaksi jual beli.

‘sexy design’?
desain yang appealing… haha desain yang menggoda barangkali… saya sendiri tidak menyukai desain yang sexy, saya menyukai desain yang sepertinya biasa saja, namun makin lama orang makin menyukainya.

Siapakah Anda dalam 10 tahun?
Sebagai desainer dalam 10 tahun ke depan saya ingin paling banyak menghasilkan 5 desain tiap tahunnya, saya ingin menjadi desainer yang hemat desain..

my-office-workshop.jpg

Masih banyak foto yang Singgih kirimkan. Masih banyak kenangan yang kami lalui. Yang jelas, salah satu radio rancangannya, ada di atas mejaku, menyuarakan gelombang radio.

Buku Desain Grafis yang Sosialis

December 5th, 2008 § 1

Hari Rabu kemarin, aku diberi sebuah buku oleh seorang teman bernama Adityawarman. Ia baru saja selesai mengolah tesis S2 dan menerbitkannya sebagai sebuah buku.

n52808960468_9902.jpg

Aku belum baca habis buku berisikan banyak paparan mengenai  propaganda, citra, dan aplikasi desain grafis di ruang politik.

Hari ini, Jumat, 5 Desember 2008, buku ini akan diluncurkan untuk pertama kali di sebuah kedai kopi di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Berikut ini undangan yang aku terima untuk diteruskan.

UNDANGAN NGOBROL SORE
Diskusi buku
Propaganda Pemimpin Politik Indonesia – Mengupas Semiotika Orde Baru Soeharto (Arief Adityawan S., Jakarta: LP3ES, 2008)

Pembahas: Ignatius Haryanto – Lembaga Studi Pers Pembangunan (LSPP)
Waktu: Jumat 5 Desember 2008 Pukul 17.00
Kafe Darmint, Jl. Tebet Utara I no. 8 Jakarta Selatan

Diskusi disertai pameran fotografi “10 Years Later – Refleksi 10 Tahun Reformasi 1998, oleh Kurnia Setiawan.

Buku ini membahas desain grafis dari media propaganda politik dari Soeharto hingga SBY, selain juga membahas media kontrapropaganda yang dibuat berbagai LSM. Pembahasan dilakukan dengan memanfaatkan kajian Semiotik. Mesin propaganda Soeharto bekerja dengan mereproduksi ideologi Bapak Pembangunan Indonesia sebagai pahlawan. Mesin propaganda ini mulai bekerja sejak tahun 1965 hingga kini, walaupun Soeharto telah wafat.
Untuk informasi lebihnya, bisa lihat di sini.

9808

June 8th, 2008 § 0

Saya diberitahu Adit di grafisosial mengenai film-film bertema tragedi Mei ini.

9808 terdiri dari beberapa film yang mendokumentasikan kondisi rasis di Indonesia secara sederhana, khususnya terhadap warga keturunan cina.

E=wMC2

June 3rd, 2008 § 0

Menarik sekali tulisan Iwan Piliang ini..

Terdapat sepuluh prinsip pemasaran di masa depan..

Nagabonar: ‘re-run’

May 18th, 2008 § 0

Film yang ditayangkan pertama kali tahun 1984 ini baru saya tonton kemarin.

Dengan alasan menemani anak semata wayang dan kakak angkatnya, aku membeli tiga karcis bioskop dan popcorn.

Film Indonesia yang menarik. Tidak bertele-tele, walaupun masih berasa loncatan disana-sini – khas skenario buatan indonesia.  Akting dari para pemainnya, jauh lebih baik bila dibandingkan dengan akting kebanyakan aktor atau aktris di film-fil Indonesia kebanyakan. Deddy Mizwar masih muda, Nurul Arifin masih terlihat segar tanpa kontaminasi.

200px-nagabonar-sampul.jpg

Senang aku mendengar panggilan ‘si bengak’ yang sering disebut dalam film itu. mengingatkan saya jaman SMA. Film yang disutradarai MT Risyaf itu berhasil menghadirkan tawa. Anakku yang umur enam pun menikmatinya, walau awalnya, ia mengira film Nagabonar adalah film kartun dengan pemeran seekor naga bernama Bonar.

karya mutakhir tompuzo

April 16th, 2008 § 0

Karya Pak Toto Mukmin kembali menggelitik.

Warna-warna yang cerah, hangat. Abstraksi figur-figur yang melompat di sana-sini, selalu membuat saya mencari cara-cara (yang cukup sopan) untuk menawarkan barter, demi memiliki sebuah atau dua lukisannya. Maklum, belum saatnya bagi saya untuk memasuki wilayah pemilik karya seni.

Karyanya kali ini didominasi dengan warna merah ‘pinkish’. Gaya visual yang ilustratif, seakan ingin ‘memudahkan’ pengamat dalam mendapatkan ‘pesan’ yang ingin disampaikan.  Ornamentasi lurik dan batik membuat abstraksi figur menjadi lebih bersahabat, hangat, bersahabat.

image255.jpg

soal cinta..

April 16th, 2008 § 0

Baru menonton film ‘Feast of Love’ yang dibintangi Morgan Freeman. Film tahun 2007 itu bercerita soal cinta. Hal sederhana yang tidak sesederhana itu.

Alur cerita yang mengalir dengan santai, diselingi dengan visual ‘sedap’ berupa tampilan kedai kopi di pojok jalan, membuat aku berpikir ulang: apakah cinta itu?

Berikut ini, salah satu dialog yang kusuka. Dialog antara sang profesor (Morgan Freeman: Harry) dan istrinya, Esther.

Esther Stevenson: How was your walk? Did I miss anything?
Harry Stevenson: A cool breeze, a softball game, and two women falling in love.
Esther Stevenson: With each other?
Harry Stevenson: And one of them’s married. The funny thing is, no one noticed. Not even the husband, two feet away.
Esther Stevenson: I’m sorry I missed that.
Harry Stevenson: I imagine he will be too.

Haha..

Untuk tahu lebih lihatlah di sini atau di situ.

buku baru: You Can Hear Me Now ..

March 5th, 2008 § 0

Itu judul sebuah buku yang ditulis oleh Nicholas P. Sullivan.

Buku itu tentang revolusi dibidang penyebaran informasi.

Lihat detail mengenainya disini

you_can_hear_me_now.jpg

Where Am I?

You are currently browsing the resensi category at aikonia.